Contoh Usaha Modal 5 Jutaan Sampai Dengan 10 Jutaan

Memulai merintis sebuah usaha memang tidak mudah. Apalagi jika modal yang dimiliki tergolong pas-pasan. Jika tidak tepat mengelola keuangan, bukan untuk justru malah buntung. Nah, oleh sebab itu sebelum mulai merintis usaha harus benar-benar di rencanakan dengan matang dan perlu adanya memilih usaha yang modalnya pas-pasan namun dapat menguntungkan. Jangan lupa juga untuk memperhatikan lokasi atau tempat kalian tinggal.

Berikut Ini Contoh Usaha dengan Modal 5 Juta

1. Usaha Toko Kelontong atau Sembako

Dengan modal 5 juta kalian bisa membuka warung atau toko sembako. Karena kebutuhan pokok akan terus dan terus di butuhkan oleh masyarakat, maka usaha ini akan bisa terus berjalan. Apalagi untuk masyarakat di pinggiran kota akan lebih banyak membutuhkan warung sembako. Buka usaha warung sembako dapat dilakukan dengan mudah, tidak perlu menyewa ruko atau tempat khusus tetapi mulai lah dengan memanfaatkan halaman rumah kalian atau bisa di dalam rumah.

Dengan mempertimbangkan modal yang segitu, kalian juga bisa mempertimbangkan harga jual sembako. Menyetok bahan-bahan secara lengkap agar warung tetap ramai pembeli, tetapi juga jangan terlalu menjual dengan harga yang mahal atau di atas harga pasar.

Jika tak ingin rugi, kalian bisa membeli bahan-bahan sembako dari pihak produsen langsung atau bisa melalui distributor tetapi pilihlah dengan harga yang miring.

Sebagai langkah awal, kalian bisa memfokuskan dengan membeli barang-barang yang di butuhkan oleh konsumen. 

2. Usaha Counter Pulsa

Counter pulsa bisa dibilang usaha yang tiada mati. Karena dari dulu hingga sekarang bisnis ini terus ada dan semakin berkembang. Tidak sedikit pula orang yang datang ke counter hanya untuk membeli pulsa, meskipun sekarang sudah ada aplikasi digital. Usaha ini cocok untuk berbagai jenis kalangan mulai yang muda hingga tua. 

Untuk memulainya, kalian bisa dengan memilih lokasi terlebih dahulu. Jika rumah kalian ramai akan lalu lalang kendaraan, cukup dengan membeli etalase dan kebutuhan counter lainnya. Dengan itu kalian akan hemat untuk biaya sewa tempat. Tetapi, jika rumah kalian jauh dari keramaian, kalian bisa menyewa ruko pinggir jalan dengan mempertimbangkan harga sewa. Pilihlah harga sewa yang murah, sehingga tidak perlu mengeluarkan banyak biaya. Setelah itu kalian bisa melengkapi kebutuhan lainnya seperti membeli etalase, serta kebutahan lainnya seperti voucher kuota dan nomor-nomor kartu perdana.

Untuk kebutuhan pulsa, carilah agen pulsa yang menawarkan harga murah. Sehingga kalian bisa menjual dengan harga yang lebih murah ke konsumen. Dan pilihlah nomor-nomor yang cantic, karena akan menjadi daya Tarik sendiri.

3. Usaha Catering Rumahan

Usaha ini juga tidak perlu modal yang besar. Cukup dengan memburuhkan bakat dan kepandaian dalam mengolah masakan. Tidak hanya itu, kalian juga harus bisa memasak beraneka macam masakan agar catering yang kalian kelola akan bervariasi. Untuk resep, kalian bisa mencari lewat internet, karena ada banyak ribuan resep. Jadi nggak usah kawatir! Untuk pemasarannya, kalian bisa dengan menawarkan pada rekan kerja, teman, tetangga. Untuk yang punya hajatan kecil-kecilan kalian bisa menjadikan mereka target konsumen.

4. Usaha Laundry

Usaha ini sangat cocok bagi kalian yang di rumah sudah punya mesin cuci sendiri. Karena sekarang ini juga banyak orang yang sibuk dengan pekerjaannya sendiri, pasti akan menyita banyak waktu untuk mencuci baju sendiri. Apalagi mereka adalah para mahasiswa dan pekerja pabrik. Jasa laundry ini memang sudah banyak, tetapi juga bisa mendatangkan keuntungan banyak pula. Jika kalian ingin memulai usaha ini, pastikan memilih tempat yang strategis. Jadi, pilih lah target pasar kalian baru menentukan lokasi usaha.

Jika sudah berkembang, kalian bisa menambah variasi lain tidak hanya pakaian tetapi bisa dengan laundry boneka, karpet, bahkan peralatan camping seperti tenda.

5. Jasa Menjahit dan Bisnis Pakaian

Menjahit memang perlu keterampilan dan keahlian, tetapi jika kalian belum mahir kalian bisa ikut kursus menjahit terlebih dahulu. Dengan itu kalian sudah memiliki bekal untuk membuka usaha ini. Modal utama selain keterampilan, kalian bisa membeli peralatan seperti mesin jahit, mesin obras, hingga peralatan jahit lainnya seperti benang jahit, gunting, pengukur baju, dll.

Jika sudah, kalian bisa mempromosikan jasa menjahit ke teman-teman dekat, tetangga. Kalian bisa dengan menerima pesanan jahitan baju sekolah, kondangan, permak baju, hingga baju kantoran. Berikan tariff dengan harga yang terjangkau agar pelanggan puas dan bisa menjadi langganan.

Karena jasa menjahit adalah jasa yang memberikan keuntungan tidak pasti. Kalian bisa dengan menyelinginya dengan membuat pakaian sendiri lalu di jual. Itu juga bisa dilakukan kalau pas jasa menjahit sedang sepi. 

Nah, jika ulasan diatas adalah contoh usaha dengan modal 5 juta, kita bisa membandingkan dengan usaha yang modalnya 10 juta.

Berikut Contoh Usaha dengan Modal 10 Juta

1. Usaha Warkop atau Bisa di Sebut dengan Angkringan

Warkop merupakan usaha yang terbilang praktis dan mudah untuk dijalankan. Kalian tidak perlu memiliki keahlian tingkat dewa untuk bisa memasak dan menghidangkan menu ke pembeli. Karena menu yang di hidangkan adalah menu yang umum di jajakan seperti nasi bungkus, aneka gorengan, aneka sundukan, hingga minuman yang di hidangkan pun merupakan minuman sashet yang tinggal seduh. Tetapi kalian juga bisa menambahkan menu yang special yang tidak semua warkop memiliki menu tersebut. 

Karena warkop identic dengan tempat nongkrong entah itu di kala senggang, atau di kala banyak tugas (bagi siswa dan mahasiswa). Dengan fasilitas wifi gratis, akan banyak orang yang bisa datang mulai dari yang muda hingga tua. Apalagi tempat yang kalian pilih strategis.

Untuk modal awalnya sebenarnya tidak sampai 10 jutaan jika kalian bisa memilih tempat sewa yang harganya terjangkau tidak begitu mahal. Yang terpenting tempat usaha tersebut, bisa kalian sulap menjadi tempat nongkrong yang nyaman dan bersih.

2. Usaha Makanan Bakso dan Mie Ayam

Usaha satu ini memiliki banyak penggemar dari dulu hingga sekarang. Pasti rame pengunjung jika kalian dapat menyulap makanan ini dengan rasa yang menarik dan bisa membuat pelanggan ketagihan. Kalian bisa dengan membuka lapak jualan di gerai rumahan atau bisa dengan menyewa tempat. Tapi jika rumah kalian ramai orang berlalu lalang, kalian tak perlu menyewa tempat. Kalian bisa menjadikan rumah menjadi tempat usaha. Atau kalian bisa menyewa tempat yang strategis untuk usaha ini.

Gak perlu menyewa tempat sebenarnya usaha ini bisa berjalan, dengan jualan keliling menggunakan gerobak. Sebelum berjualan, pastikan kalian memiliki resep dengan rasa yang menarik sehingga cita rasa yang diciptakan dapat membuat pelanggan puas dengan rasanya.

3. Usaha Jasa Fotokopi

Jasa fotokopi sangat di butuhkan banyak orang. Apalagi untuk saat ini sudah banyak mesin fotokopi yang harganya murah. 

Lokasi yang strategis untuk membuka jasa ini bisa di dekat sekolah atau kampus. Selain fotokopi kalian bisa menambah mesin print, karena keduanya saling melengkapi. Dengan itu, orang tidak hanya datang untuk fotokopi saja, melainkan bisa dengan print tugas atau pun dokumen yang lainnya.

4. Jasa Pangkas Rambut

Usaha ini sebenarnya juga butuh modal keahlian dan keterampilan. Tetapi kalian bisa belajar terlebih dahulu kok. 

Karena usaha ini juga membutuhkan tempat yang strategis, kalian bisa dengan modal awal menyewa tempat. Setelah itu kalian bisa membeli kebutuhan lainnya seperti kebutuhan alat pangkas, kursi, kaca, dan tempat tunggu. Jika kalian sendiri belum ahli dalam pangkas dan mencukur rambut, kalian bisa memperkerjakan tukang cukur yang sudah berpengalaman.

5. Warung Makan

Usaha ini modalnya sebelas duabelas lah dengan usaha catering rumahan, tapi bedanya warung makan ini kalian bisa mempersiapkan segala kebutuhan warung seperti meja kursi dan alat makan lainnya.

Kalian perlu mempersiapkan makanan, gak perlu ribet-ribet tapi cukup dengan masakan makanan rumahan asalkan ada nasi, lauk, sayur, dan minuman. Kemudian, kalian bisa mempersiapkan tempatnya. Bisa dengan menyewa ruko atau kalian bisa menyulap rumah kalian menjadi warung makan. Pilih lah tempat yang strategis dan ramai orang berlalu lalang ya gaess.

Nah, contoh usaha diatas merupakan contoh usaha yang umum dan sudah banyak orang membuka usaha tersebut. Sebenarnya, jika kalian memang berniat membuka usaha kalian harus punya kesabaran, ketekunan. Karena membuka usaha itu memang tidak mudah ya gaess ! harus ekstra sabar dan jangan lupa doanya.  Berjuang lah semampu kalian, tapi jangan lupakan doa setelah itu.


Pengertian Lead Time dan Pengaruh Lead Time Terhadap Keputusan Pemesanan

Pengertian Lead Time dan Pengaruhnya Lead Time Terhadap Keputusan Pemesanan– Lead time adalah jumlah waktu yang dibutuhkan dari saat pelanggan melakukan pemesanan sampai produk keluar untuk pengiriman, termasuk waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi bahan untuk produk tersebut atau waktu yang diperlukan untuk menerima bahan. Di sisi pelanggan, Lead Time dapat diartikan sebagai waktu yang diperlukan untuk memproses pesanan hingga menerima pengiriman produk yang dipesan. Misalnya kita melakukan pemesanan hari ini dan menerima kiriman dalam waktu 4 hari kemudian, berarti waktu tunggu atau Lead Time untuk pesanan tersebut adalah 4 hari.

Pengertian Lead Time dan Pengaruhnya Lead Time Terhadap Keputusan Pemesanan– Lead time adalah jumlah waktu yang dibutuhkan dari saat pelanggan melakukan pemesanan sampai produk keluar untuk pengiriman, termasuk waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi bahan untuk produk tersebut atau waktu yang diperlukan untuk menerima bahan. Di sisi pelanggan, Lead Time dapat diartikan sebagai waktu yang diperlukan untuk memproses pesanan hingga menerima pengiriman produk yang dipesan. Misalnya kita melakukan pemesanan hari ini dan menerima kiriman dalam waktu 4 hari kemudian, berarti waktu tunggu atau Lead Time untuk pesanan tersebut adalah 4 hari.

Istilah “Lead time” ini umumnya digunakan di banyak bidang Manufaktur maupun Jasa seperti Manajemen Rantai Pasokan (SCM), Manajemen Proyek, Manajemen Pemasok, Perencanaan Kebutuhan Bahan & Perencanaan Kebutuhan Perusahaan (MRP & ERP), Pengembangan Perangkat Lunak dan bahkan di Manajemen Sumber Daya Manusia.

Pada dasarnya hampir setiap bisnis memiliki Lead time yang harus diperhatikan. Penafsiran istilah “Lead Time” ini mungkin akan berbeda di setiap bidang tergantung pada sifat operasinya.  Contoh di bidang Manajemen Rantai Pasokan, Lead Time adalah durasi sejak pesanan diterima sampai barang tersebut dikirim ke pelanggan. Sedangkan dalam Pengembangan Produk Baru, Lead Time adalah waktu yang dibutuhkan oleh suatu produk untuk mencapai pasarnya. Di samping itu, Lead Time dalam Manajemen Sumber Daya Manusia adalah waktu yang dibutuhkan untuk perekrutan sumber daya manusia tersebut ke organisasi atau perusahaannya.

Penerjemahan istilah Lead Time ini ke bahasa Indonesia berbeda-beda sesuai dengan bidang operasinya juga, ada yang menyebutnya sebagai “Waktu Tenggang” ada juga yang menyebutnya sebagai “Waktu Tunggu” dan ada juga yang menerjemahkannya menjadi “Waktu Pemesanan Bahan”. Perlu diketahui bahwa Lead Time yang tinggi akan mengakibatkan tingginya persediaan dan juga akan mempengaruhi kepuasan pelanggan/pembeli yang pada akhirnya akan mencari produk alternatif lainnya.

Pengertian Lead Time menurut Para Ahli

Untuk lebih jelas mengenai Lead Time ini, berikut ini adalah beberapa definisi atau Pengertian Lead Time menurut para Ahlinya.

Pengertian Lead Time menurut Assauri (2008 : 264), Lead Time adalah lamanya waktu antara mulai dilakukannya pemesanan bahan-bahan sampai dengan kedatangan bahan-bahan yang dipesan tersebut dan diterima di gudang persediaan.

Pengertian Lead Time menurut Zulfikarijah (2005:96), Lead Time adalah merupakan waktu yang dibutuhkan antara pemesanan dengan barang sampai diperusahaan, sehingga lead time berhubungan dengan reoder point dan saat penerimaan barang.

Pengertian Lead Time menurut Slamet (2015:71), Lead Time adalah jangka waktu yang dibutuhkan sejak mulai dilakukan pemesanan sampai dengan datangnya bahan baku yang sudah dipesan.

Elemen atau Variabel Utama Lead Time

Lead Time pada sebuah perusahaan manufaktur pada dasarnya dibentuk dari beberapa elemen atau variabel, diantaranya adalah :

Lead Time = Preprocessing Time + Processing time + Waiting time + Transportation time + Inspection time + Storage time

Waktu pra-proses (Pre-processing Time) : Waktu yang diperlukan untuk menerima Permintaan, memahami permintaan dan membuat pesanan Pembelian.

Waktu Proses (Processing Time) : Waktu yang diperlukan untuk memproduksi atau membeli barang.

Waktu Tunggu (Waiting Time) : Jumlah waktu yang diperlukan dalam antrian menunggu produksi.

Waktu Transportasi (Transportation Time) : Waktu barang dalam perjalanan untuk mencapai pelanggan.

Waktu inspeksi (Inspection Time) : Waktu yang diperlukan untuk memeriksa produk jika ada ketidaksesuaian.

Waktu penyimpanan (Storage Time) : Waktu barang menunggu di gudang atau pabrik.

Pengaruh Lead Time terhadap Keputusan Pemesanan

Lead Time sangat berpengaruh terhadap keputusan pemesanan bahan dalam setiap proses produksi. Pemesanan bahan yang diperuntukan produksi akan bermasalah apabila tidak memperhitungkan Lead Time. Pemesanan yang tidak sesuai Lead Time akan mengakibatkan tingginya persediaan yang merugikan perusahaan ataupun kekurangan bahan yang dapat digunakan sehingga mengakibatkan berhentinya proses produksi. Oleh karena itu, kita perlu memperhitungkan dengan baik agar jumlah pemesanan sesuai dengan Lead Time-nya.

Cara Menghitung ROP (Reorder Point) atau Titik Pemesanan Ulang

Untuk menetapkan jumlah pemesanan bahan yang tepat, kita perlu melakukan perhitungan ROP atau Titik Pemesanan Ulang seperti persamaan atau rumus dibawah ini :

ROP = L x R

atau

Reorder Point = Lead Time x Average Daily Usage Qty

Dimana :

ROP = Reorder Point (Titik Pemesanan Ulang)

L = Lead Time

R = Average Daily Usage Qty (Rata-rata jumlah pemakaian per hari)

Contoh Kasus

LCD yang diperlukan dalam produksi kalkulator membutuhkan Lead Time selama 30 hari, produksi membutuhkan sekitar 1000 unit setiap harinya. Berapakah Jumlah yang dibutuhkan untuk mencapai Reorder Point atau Titik Pemesanan ulangnya?

Diketahui :

L = 30 hari

R = 1000 unit

ROP = ?

Jawaban :

ROP = L x R

ROP = 30 hari x 1.000 unit

ROP = 30.000 unit

Jadi Titik Pemesanan Ulang atau ROP dari kasus tersebut adalah sebanyak 30.000 unit.

Pengertian Jasa, Dimensi Kualitas Jasa dan Karakteristik Jasa

Jasa merupakan produk yang tidak berwujud, yang berupa tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh pihak penyedia, yang dapat dirasakan dan diambil manfaatnya oleh pihak pengguna jasa. Jasa pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang memiliki beberapa unsur ketakberwujudan yang dapat diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lainnya dan memberikan berbagai manfaat bagi pihak-pihak yang terkait. Dapat disimpulkan bahwa jasa bukan suatu barang melainkan suatu proses atau aktivitas yang tidak berwujud untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Lovelock, Wirtz dan Mussry (2010) mengemukakan bahwa jasa adalah suatu aktivitas ekonomi yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak yang lain. Sebagai pertukaran dari uang, waktu, dan upaya, pelanggan jasa berharap akan mendapatkan nilai (value) dari suatu akses ke barang-barang, tenaga kerja, tenaga ahli, fasilitas, jejaring dan sistem tertentu, tetapi para pelanggan biasanya tidak akan mendapatkan hak milik dari unsur-unsur fisik yang terlibat dalam penyediaan jasa tersebut.

Dimensi Kualitas Jasa

(Parasuraman, Zeithaml dan Berry, 1988) mengemukakan lima dimensi service quality (kualitas jasa) dimana tiga dari dimensi tersebut original dan dua sisanya adalah kombinasi dari dimensi lain, kelima dimensi tersebut yaitu:

  • Tangibles (bukti fisik), berkenaan dengan daya Tarik fasilitas fisik, perlengkapan dan material yang digunakan perusahaan serta penampilan karyawan.
  • Reliability (reliabilitas), berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk memberikan layanan yang akurat sejak pertama kali tanpa membuat kesalahan apapun dan menyampaikan jasanya sesuai dengan waktu yang disepakati.
  • Responsiveness (daya tanggap), berkenaan dengan kesediaan dan kemampuan para karyawan untuk membantu pelanggan dan merespon permintaan pelanggan, serta menginformasikan kapan jasa akan diberikan kemudian memberikan jasa secara tepat.
  • Assurance (jaminan), yakni perilaku para karyawan yang mampu menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan dan kemampaun perusahaan dalam menciptakan rasa aman bagi para pelanggannya. Jaminan juga berarti bahwa karyawan selalu bersikap sopan dan menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk menangani setiap pertanyaan atau masalah pelanggan.
  • Empathy (empati), yang berarti perusahaan memahami masalah para pelanggannya dan bertindak demi kepentingan pelanggan serta memberikan perhaatian personal kepada para pelanggan dan memiliki jam operasi yang nyaman. 

Karakteristik Jasa

Ada empat karakteristik jasa yang membedakannya dengan barang, keempat karakteristik tersebut meliputi:

Tidak Berwujud (Intangibility)

Jasa bersifat tidak berwujud. Tidak seperti produk fisik, jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar atau dicium sebelum jasa itu dibeli. Untuk mengurangi ketidakpastian, para pembeli akan mencari tanda atau bukti mutu jasa. Konsumen akan menarik kesimpulan mengenai mutu jasa dari tempat, orang, peralatan, alat komunikasi, simbol, dan harga yang mereka lihat.

Tidak Terpisahkan (Inseparability)

Umumnya jasa dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan. Jasa tidak seperti barang fisik yang diproduksi, disimpan dalam persediaan, didistribusikan melewati berbagai penjual, dan kemudian baru dikonsumsi.

Bervariasi (Variability)

Jasa sangat bervariasi, tergantung pada siapa yang menyediakan serta kapan dan dimana jasa itu diberikan. Perusahaan jasa dapat melakukan tiga langkah dalam rangka pengendalian mutu. Pertama, menciptakan prosedur perekrutan dan pelatihan yang baik. Kedua, menstandarisasi proses pelaksanaan jasa di seluruh organisasi. Ketiga, memantau kepuasan pelanggan melalui sistem saran dan keluhan, survei pelanggan dan melakukan perbandingan.

Mudah Lenyap (Perishability)

Jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan. Bila permintaan berfluktuasi, berbagai masalah akan muncul berkaitan dengan kapasitas. Misalnya menganggur saat permintaan sepi dan pelanggan tidak terlayani dengan resiko mereka kecewa atau beralih ke penyedia jasa lainnya saat permintaan memuncak.

 

Pengertian UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dan Perbedaan Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Usaha Menengah

Penjelasan tentang pengertian UMKM adalah usaha perdagangan yang dikelola oleh badan usaha atau perorangan yang merujuk pada usaha ekonomi produktif sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008.

Perkembangan UMKM dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelompok antara lain :

Klasifikasi UMKM

1. Livelihood Activities : merupakan UKM yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor informal. Contohnya pedagang kaki lima.
2. Micro Enterprise : merupakan UKM yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan. 
3. Small Dynamic Enterprise : merupakan UKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor. 
4. Fast moving enterprise : merupakam UKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi usaha besar.

Perbedaan Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Usaha Menengah

Dalam perkembangannya, dunia usaha tidak lagi diklasifikasikan berdasarkan jumlah karyawannya. Berdasarkan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pemerintah mengelompokkan jenis usaha berdasarkan kriteria aset dan omzet.

Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria kekayaan bersih maksimal Rp50 juta tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Selain itu, memiliki omzet tahunan maksimal Rp300 juta.

Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri dan dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha. Usaha bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian langsung dan tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar. Kriteria usaha kecil adalah kekayaan bersih berkisar lebih dari Rp 50 juta sampai Rp 500 juta, tidak termasuk tanah dan bangunan usaha. Selain itu, memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300 juta sampai dengan paling banyak Rp 2,5 miliar.

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri dan bukan termasuk anak perusahaan atau cabang perusahaan tertentu. Adapun, kriteria jumlah kekayaan bersih harus lebih dari Rp 500 juta hingga paling banyak Rp 10 Miliar. Selain itu, penjualan tahunan lebih dari Rp 2,5 miliar sampai paling banyak Rp 50 miliar.

Adapun Kriteria setiap unit usaha UMKM diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 pasal (6) Tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel dibawah ini :

Jenis Badan Usaha

Kriteria

Kekayaan Bersih

(Aset)

Hasil Penjualan

(Omset)

Usaha Mikro

≤ 50 Juta

≤ Rp 300 Juta

Usaha Kecil

˃ Rp 50 Juta – 500 Juta

˃ 300 Juta – 2,5 Miliar

Usaha Menengah

˃ 500 Juta – 10 Miliar

˃ 2,5 Miliar – 50 Miliar


Apa itu G20?


Halo kawan industri... Tahun ini mungkin kawan industri sering menemui pamflet, mmt atau baliho yang bertuliskan G20 di beberapa ruas jalan apalagi di instansi pemerintah yang notabene mensukseskan kegiatan G20. Mari kita mengulas dengan G20 itu. G20 atau yang biasa disebut Group of Twenty merupakan perkumpulan negara di dunia yang berjumlah 20 negara yang dibentuk dalam rangka mewujudkan stabilitas ekonomi dunia. G20 dibentuk atas dasar kondisi keuangan dunia yang mengalami krisis berat yang terjadi sekitar 1997 – 1999. Sebelum adanya perkumpulan G20 sebelumnya sudah ada perkumpulan negara yang terdiri dari tujuh negara atau yang disebut dengan G7. Perkumpulan G7 merupakan perkumpulan negara yang terdiri dari negara-negara ekonomi maju IMF Dunia, yaitu Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Jepang, Italia, Inggris, kanada. G20 dibentuk atas saran dari para menteri keuangan G7 dan setelah itu para menteri keuangan dan bank sentral negara G20 mulai mengadakan pertemuan dalam membahas respon pada krisis ekonomi yang terjadi. Singkat cerita setelah itu para menteri keuangan melaksanakan pertemuan rutin pada musim gugur. Singkat cerita pada tahun 2008 presiden AS, George W Bush mengundang pemimpin-pemimpin negara G20 pada KTT G20 pertama dan Amerika Serikat menjadi presidensi pertama pertemuan G20. G20 tidak memiliki sekretariat permanen namun pada proses dan sistem kerjanya memiliki tuan rumah atau presidensi yang ditetapkan pada KTT berdasarkan setiap pertemuan kawasan setiap tahunnya. Pada pertemuan G20 mendatang tahun 2022, Indonesia terpilih sebagai tuan rumah KTT.

Lalu siapa anggota-anggota G20?

        Anggota di Group of Twenty adalah negara-negara G7 ditambah dengan G8 dan beberapa negara lainnya. Berikut adalah anggota negara-negara G20 adalah Negara-negara yang menjadi anggota perkumpulan G20 adalah Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Jepang, Italia, Inggris, kanada, Afrika Selatan, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Meksiko, Republik Korea, Rusia, China, Turki, dan Uni Eropa.

Apa yang dibahas pada G20?

        Pada setiap pertemuan, para negara sepakat membahas isu-isu sentral dan luas yang terjadi di dunia. Adapun fokus isu yang di bahas adalah

  • Geopolitik
  • Energi
  • Pembangunan
  • Kesetaraan Gender
  • Perubahan Iklim
  • Perdagangan
  • Anti Korupsi
  • Dan isu lain yang sedang menjadi perbincangan masing-masing negara.

Apa benefit yang didapat oleh Indonesia?

        Yaaps, seperti biasa setiap negara yang ikut andil pada perkumpulan negara-negara pasti memiliki tujuan atau maksud yang diinginkan. Lalu apa manfaat yang didapatkan oleh negara kita? Sebagai anggota forum G20, Indonesia mendapat manfaat dari perkembangan informasi dan pengetahuan awal pada perkembangan ekonomi global, potensi risiko yang dihadapi, dan penerapan kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh negara maju sehingga menjadi acuan dan gambaran pada negara kita untuk menuju negara maju. Serta indonesia dapat memperjuangkan kepentingan nasionalnya dengan dukungan internasional lewat forum ini.

Kapan G20 diselenggarakan?

        Agenda pertemuan G20 dilaksanakan setiap tahunnya sejak pada tahun 2008 dimana tuan rumah pertama kali KTT G20 adalah Amerika Serikat. Sebelum KTT Presidensi dilakukan para menteri dan bank sentral masing-masing negara mengadakan beberapa pertemuan rutin dalam satu tahun untuk mensukseskan pada presidensi G20 yang akan mendatang. Indonesia merupakan tuan rumah presidensi G20 pada tahun 2022. Penyelenggaraan ini telah dimandatkan mulai tanggal 1 Desember 2021 sampai dengan 30 November 2022. Puncak kegiatan presidensi tahun 2022 diselenggarakan di Bali pada November mendatang.

Apa hubungannya G20 dengan industrialisasi di Indonesia?

        Pada presidensi G20 mendatang indonesia tentunya memiliki kepentingan dalam pertemuan dengan berbagai negara tersebut. Pertemuan itu menjadi sorotan oleh pemerintah kita dalam sektor industrialisasi. Dalam presidensi, pemerintah mengupayakan dalam terobosan pada aspek kesehatan sehingga akses terhadap industri farmasi dan alat kesehatan bisa meningkat dalam produksi dan distribusinya sehingga bisa memberikan dampak kepada masyarakat luas. Upaya ini dapat memacu kinerja daya saing sektor industri di tanah air dalam rangka akselerasi pemulihan ekonomi nasional. Selain dalam aspek industri farmasi dan alat kesehatan, pemerintah juga mengangkat dalam transformasi digitali fabrikasi, dan transisi energi berkelanjutan atau ekonomi hijau melalui penerapa industri 4.0.

Apakah indonesia sudah mempersiapkan pada presidensi G20? Tentu saja sudah, Presidensi G20 merupakan pertemuan negara yang sangat bergengsi oleh sebab itu pemerintah sudah menyiapkan berbagai rangkaian kegiatan pada presidensi G20. Mari kita sebagai masyarakat Indonesia bersama dalam mensukseskan presidensi ini. Berbagai negara datang dan berkunjung di Indonesia, mari kita perlihatkan budaya dan lingkungan indonesia yang sangat beragam dan menarik untuk tidak dilewatkan begitu saja. Salam Industri.

Pengertian Green Supply Chain Management (GSCM)

Konsep Green Supply Chain Management adalah integrasi perspektif lingkungan ke dalam manajemen rantai pasokan termasuk desain produk, pemilihan dan pemilihan sumber bahan baku, proses pembuatan, pengiriman produk akhir ke konsumen, dan manajemen produk setelah habis masa berlakunya. Jadi dapat disimpulkan bahwa konsep peduli lingkungan didasarkan pada perspektif lingkungan, yaitu bagaimana mengurangi limbah dan dampak lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan rantai pasokan. Ini adalah aspek non-finansial jangka panjang yang penting terkait dengan lingkungan yang harus dipertimbangkan perusahaan dalam menjaga hubungan baik demi keberlanjutan kegiatan rantai pasokannya di masa depan.

Konsep dari GSCM merupakan manajemen rantai pasokan yang berhubungan dengan aspek lingkungan. Manajemen rantai pasokan yang berbasis green penting untuk diterapkan karena selama ini ukuran kinerja rantai pasokan biasanya tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Isu rantai pasokan ramah lingkungan dipandang kritis bagi kesuksesan implementasi ekosistem industrial dan ekologi industrial. 

Green SCM juga menemukan definisinya dalam manajemen rantai pasokan, dimana menambahkan komponen “ramah lingkungan” ke manajemen rantai pasokan dan melibatkan pengaruh dan hubungan manajemen rantai pasokan dengan lingkungan alam. Di motivasi oleh pola pikir sadar akan lingkunga, ini juga bisa berasal dari motif daya saing dalam suatu organisas.

Literatur Green SCM yang ada menjadi tiga kategori besar berdasarkan  konteks masalah dalam rantai pasokan: literatur yang menyoroti pentingnya Green SCM; literatur tentang desain ramah lingkungan; dan literatur tentang operasi ramah lingkungan, seperti yang ditunjukan pada Gambar dibawah :

 

Gambar Classification Green SCM

Siklus penilaian produk/proses menjadi pertimbangan. Demikian pula, operasi yang ramah lingkungan melibatkan semua aspek operasional yang terkait dengan RL dan desain jaringan (pengumpulan; inspeksi/penyortiran; pra-pemrosesan; desain jarigan), manufaktur ramah lingkungan dan remanufakturing (kurangi; daur ulang; perencanaan dan penjadwalan produksi; manajemen inventaris; remanufaktur: re- penggunaan, pemulihan produk dan bahan) dan pengolahan limbah (pengurangan sumber; pencegahan polusi; pembungan).

Perbedaan Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Dalam Menyusun Skripsi

Pengertian Metodologi Penelitian

Metodologi adalah ilmu-ilmu/cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang dikaji.

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Maksud dari cara ilmiah adalah bahwa kegiatan penelitian bersandar pada ciri-ciri keilmuan, yakni rasional, sistematis dan empiris.

Rasional berarti kegiatan penelitian yang dilakukan masuk akal, sehingga dapat dijangkau dengan oleh penalaran manusia. Empiris, berarti cara atau langkah yang dilakukan dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara atau langkah yang digunakan. Seistematis, berarti proses yang digunakan dalam penelitian menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.

Jenis-Jenis Metodologi Penelitian

Secara umum ada tiga metode penelitian yang umum digunakan terutama dalam penulisan skripsi, tesis, dan disertasi. Ketiga metode penelitian itu terdiri dari, metode penelitian kuantitatif, metode penelitian kualitatif, dan metode penelitian kombinasi (mixed methods).

Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif

Berdasarkan tujuan penelitiannya, penelitian kualitatif dan kuantitatif memiliki perbedaan yaitu:

  1. Penelitian kualitatif bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam, mengembangkan teori, mendeskripsikan realitas dan kompleksitas sosial.
  2. Sementara itu, penelitian kuantitatif bertujuan untuk menjelaskan hubungan antarvariabel, menguji teori, dan melakukan generalisasi atas objek penelitian.

Menurut (Musianto, 2002) Terdapat 15 Aspek yang membedakan penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Adapun Kelima belas aspek tersebut ialah sebagai berikut :

1. Aspek Pendekatan Metodologis

Pada pendekatan kuantitatif, jenis-jenis bidang pendekatan ialah eksperimen, hard data, empirik, positivistik, fakta nyata di masyarakat dan statistik, eksperimen, survai, interview terstruktur, dan seterusnya. Pada pendekatan kualitatif, jenis-jenis bidang pendekatan ialah etnografis, tugas lapangan, soft data, interaksionisme simbolik, naturalistik, deskriptif, pengamatan dengan keterlibatan peran, phenomenologik, data dokumenter, studi kasus, studi sejarah deskriptif, dan studi lingkungan kehidupan, observasi, review dokumen, partisipan observer dan story.

2. Aspek Konseptualisasi

Pada pendekatan kuantitatif, jenis-jenis konseptual kunci ialah variabel, validitas, reliable, signifikansi, hipotesis, replikasi, dan seterusnya. Pada pendekatan kualitatif, jenis-jenis konseptual kunci ialah: makna, akal sehat, pengertian, batasan situasi, fakta kehidupan sehari-hari, proses, kontruksi sosial, dan sebagainya. Pada umumnya pendekatan kunci berasal dari obyek penelitian alamiah dan biarlah apa adanya, jangan diintervensi, ataupun diubah.

3. Aspek Tokoh-tokoh Pelopornya

Pada pendekatan kuantitatif, tokoh-tokoh beraliran positivistik seperti Emile Durkhein, L. Guttman, Fred Kerlinger, Donald Cambell, dan Peter Rossi. Rata-rata beliau adalah ahli yang percaya pada ilmu pasti dan eksak dengan rumus-rumus kuantum yang kuat.  Pada pendekatan kualitatif, tokoh-tokoh beraliran Pragmatik seperti Max Weber, Charles Horton Cooley, Harold Garfinkel, Margaret Mead, Anselm Strauss, Herbert Blumer, Erving Goffman, George H. Mead, dan Burney Glaser. Kebanyakan dari mereka, walaupun ada yang ahli ilmu-ilmu eksak, ialah dari jenis jenis ilmu kemanusiaan misalnya kedokteran, psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi dan kebudayaan.

4. Aspek Orientasi Teoretik

Pada pendekatan kuantitatif dasar teorinya ialah struktural fungsional, positivisme, behaviorisme, logika empirik dan sistem teoritik. Mereka mengutamakan teori yang tersistematik, jelas dan pasti. Pada pendekatan kualitatif, dasar teoritiknya ialah simbolik interaksionisme, etnometodologi, phenomenologik, kebudayaan, dan sebagainya. Para kualitan ini mengutamakan bukan teori yang pasti atau mapan, mereka berteori tentang fenomena-fenomena manusia dari aspek simbol, etnik, dan seterusnya. Sesuatu yang dapat saja berubah, bahkan ada aliran ekstrim yang kualitatif dengan meniadakan teori dalam penelitian.

5. Aspek Jenis Ilmunya

Bidang ini agak terbaur dan berubah secara nuansa (range), artinya sulit untuk menspesifikan (koridor, kotak) ilmunya an sich. Namun kecenderungan ada ilmuilmu yang memiliki pendekatan ambivalen sekaligus. Kecenderungan kuantitatif terdapat pada ilmu-ilmu teknik, pasti dan alam, ekonomi, psikologi, sosiologi, computer science, dan seterusnya. Kecenderungan kuanlitatif terdapat pada ilmu-ilmu humaniora, sejarah, sosiologi, anthropologi, ilmu kebudayaan, dan seterusnya. Akhir-akhir ini ada ilmu yang memiliki pendekatan kedua-duanya seperti sosiologi, kedokteran, perilaku, ekonomi deskriptif, dan seterusnya.

6. Aspek Tujuan atau Target

Pada pendekatan kuantitatif arah dan fokus suatu penelitian ialah melalui uji teoritik, membangun atau menyusun fakta dan data, deskripsi statistik, kejelasan hubungan dan prediksi. Berarti tiap langkah mengutamakan aksioma, rumus, dan soal-soal penyelesaian dan mengatasi persoalan secara langsung. Pada pendekatan kualitatif arah dan fokus suatu penelitian ialah membangun teori dari data atau fakta, mengembangkan sintesa interaksi dan teori-teori yang dibangun dari fakta-fakta mendasar (grounded) mengembangkan pengertian, dan sebagainya. Berarti tiap langkah mengutamakan proses, apa adanya dan tanpa dibatasi normanorma, rumus, dan seterusnya.

7. Aspek Korelasi dengan Responden

Pada pendekatan kuantitatif diperlukan ukuran short term atau long term, jarak dengan yang diteliti, menilai sebagai peneliti penuh terhadap yang diteliti, dominasi pada peneliti, dan seterusnya. Mereka menghadapmukakan peneliti orang dan diteliti obyek dengan aneka ulah, aturan dan norma. Pada pendekatan kualitatif diperlukan hubungan yang sederajat dan tidak terbatas atau membedakan antara yang meneliti dan diteliti. Hubungan ialah emphatik, equilitarian, kontak yang intensif, interview mendalam, dan sebagainya. Mereka yang meneliti harus tenggelam atau sama derajat dengan yang diteliti. Bila perlu mereka berkedok sebagai informan rahasia di tengah penelitiannya. Mereka “penetrating” (menembus) di tengah masalahnya.

8. Aspek Instrumen dan Perlengkapan

Pada pendekatan kuantitatif, maka perlengkapan seperti kuesioner, inventories, komputer, indeks, pengukuran dari rumus-rumus, dan seterusnya. Jelas mereka menerapkan aplikasi teknik rumus dan kepastian. Pada pendekatan kualitatif, maka perlengkapan seperti tape recorder, audiovisual, dan seterusnya yang diperlukan. Mereka menganggap “The researcher is often the only instrument”.

9. Aspek Pendekatan terhadap Populasi

Pada pendekatan kuantitatif dipergunakan rechecking berupa kontrol, validitas, reification, obtrusiveness, dan seterusnya. Mereka mempergunakan kontrol yang Perbedaan Pendekatan Kuantitatif dengan Pendekatan Kualitatif dalam Metode Penelitian jelas dengan pengulangan proses menuju pada kebenaran tujuan penelitian. Pada pendekatan kualitatif dipergunakan time consuming, reduksi data, reliabilitias, dan seterusnya.

10. Aspek Desain

Pada pendekatan kuantitatif, mereka menginginkan disain yang terstruktur, terorganisasi, urut, bagan yang sistematik. “Design is a detailed plan of operation”. Pada pendekatan yang kualitatif, mereka menginginkan disain yang fleksibel, umum, dan muncul dengan sendirinya. “Design is a punch as to how to you might proceed”. Oleh karena itu disain pendekatan kualitatif tidak pernah uniform atau seragam.

11. Aspek Penggalian Data Lapangan

Pada pendekatan kuantitatif, penggalian data dilakukan melalui coding kuantitatif, perhitungan, pengukuran, dan statistik. Kesemuanya diaplikasikan pada patokan umum dan diukur dengan patokan tersebut, untuk dinyatakan pembuktian diterima atau ditolak. Pada pendekatan kualitatif, penggalian data dilakukan melalui deskripsi obyek dan situasi, dokumentasi pribadi, catatan lapangan, fotografis, istilah-istilah atau jargonjargon kerakyatan, dokumentasi resmi, dan sebagainya. Tidak ada patokan abash dari peneliti, semua proses dianggap absah asal itu terjadi benar-benar (empirik) dan patokan baru diadakan setelah semua peristiwa terjadi.

12. Aspek Pengambilan Sampel

Pada pendekatan kuantitatif, jumlah sampel harus terseleksi jelas, dengan cara acak, terstruktur, mana yang kelompok eksperimen dan mana yang kelompok kontrol. Sampel harus mewakili populasi (representatif). Pada pendekatan kualitatif, jumlah sampel tidak perlu besar, namun purposiveness, dapat berwujud sistem bola salju, analisis isi, historiografi, dan biographical evidence.

13. Aspek Analisa Data

Pendekatan kuantitatif memakai penyimpulan analisa data berdasar deduksi, kesimpulan dari suatu koleksi data, akhirnya dihitung melalui perhitungan statistik. Analisa data kuantitatif membentuk batasan yang diterima atau ditolak oleh teori yang telah ada. Pendekatan kualitatif memakai penyimpulan konsep, induktif, model, tematik, dan sebagainya. Analisa data kualitatif dapat membentuk teori dan nilai yang dianggap berlaku di suatu tempat.

14. Aspek Keabsahan Data

Pendekatan kuantitatif memakai kontrol berupa alat statistik, pengukuran, dan hasilhasil yang relevan dengan rumus yang berlaku. Pendekatan kualitatif memakai kontrol berupa negative evidence, triangulasi, kredibilitas, dependabilitas, transferabilitas, dan konfirmabilitas. Alat-alat pada pendekatan berupa aktivitas paska penelitian untuk lebih meyakinkan dengan mengulang pemeriksaan data, bertanya obyektif pada para ahli, hubungan-hubungan yang pasti, kepercayaan yang berulang-ulang mempola, dan seterusnya.

15. Aspek Penulisan Laporan

Pendekatan kuantitatif menulis laporan menurut bagan formal tetap, isi yang tetap, lengkap dan merupakan hasil laporan dan hasil uji dengan perhitungan dari lapangan penelitian yang empirik. Pendekatan kualitatif menulis laporan menurut logika penulis dalam urutan laporannya. Isi tidak menurut formalitas yang tetap, namun berupa rangkaian stories yang dapat dipertanggungjawabkan oleh peneliti, terdiri dari story dengan penulisan yang dapat saja saling tumpang tindih namun bermakna.

Pengertian Peramalan, Macam-Macam Metode Peramalan, Materi Peramalan

Menurut (Indriastiningsih dan Darmawan, 2019) peramalan merupakan suatu aktivitas untuk memperkirakan beberapa kebutuhan dimasa datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun jasa. Dengan menggunakan data permintaan pada periode sebelumnya yang akan menjadi dasar peramalan yang diperlukan oleh setiap perusahaan untuk merencanakan jumlah produksi yang akan datang, peramalan juga mempunyai peranan langsung terhadap pengambilan keputusan. Menurut (Mamat et al., 2019) peramalan merupakan alat penting dalam proses perencanaan untuk efektivitas dan efisiensi untuk mengetahui situasi di masa depan.

Adapun menurut (Sarvanan, 2019) faktor-faktor yang mempengaruhi peramalan untuk suku cadang diantaranya adalah :

  1. Ragam produk – Jika variasi produk tinggi maka pengelompokan permintaan bisa dilakukan.
  2. Tingkat persaingan – Permintaan pasar yang kompetitif membuat peramalan akan sulit untuk diperkirakan.
  3. Harga jual produk – Harga dan penjualan produk harus dipertimbangkan dalam peramalan.
  4. Kemajuan teknologi – Peramalan produk baru akan lebih sulit daripada produk yang sudah ada.
  5. Lead time pemasok – Waktu yang dibutuhkan oleh pemasok untuk mengirim produk.
  6. Waktu transportasi – Waktu yang dibutuhkan oleh divisi suku cadang menuju ke pelanggan.
  7. Populasi mesin – Penjualan suku cadang secara langsung sebanding dengan volume penjualan.
  8. Rentang ramalan – Keakuratan peramalan tergantung pada periode rentang waktu.

Jenis – Jenis dan Kegunaan Peramalan

Menurut (Heizer dan Render, 2011) menyatakan bahwa peramalan dapat diklasifikasikan berdasarkan horizon waktu masa depan yang dilingkupinya. Horizon waktu tersebut yaitu:

  1. Peramalan Jangka Pendek (Short-range Forecast) : dimana jangka waktu peramalan ini hingga satu tahun, tetapi umumnya kurang dari tiga bulan, yang digunakan untuk merencanakan pembelian, jumlah tenaga kerja, penugasan kerja, penjadwalan kerja dan tingkat produksi.
  2. Peramalan Jangka Menengah (Medium-range Forecast) : dimana jangka waktu peramalan ini mencakup hitungan bulan hingga tiga tahun,  yang digunakan untuk merencanakan penjualan, anggaran kas, perencanaan dan anggaran produksi serta menganalisis bermacam macam rencana operasional.
  3. Peramalan Jangka Panjang (Long-range Forecast) : dimana jangka waktu peramalan ini umumnya untuk perencanaan tiga tahun atau lebih. Peramalan jangka panjang digunakan untuk merencanakan produk baru, lokasi, pembelanjaan modal, serta penelitian dan pengembangan.

Sedangkan jenis peramalan secara umum terdapat dua menurut (Heizer dan Render, 2011) yaitu:

  1. Peramalan Kualitatif : dimana peramalan ini menggabungkan faktor seperti emosi, pengalaman pribadi dan sistem nilai pengambil keputusan untuk meramal.
  2. Peramalan Kuantitatif : dimana peramalan ini menggunakan model matematis yang beragam dengan menggunakan data masa lalu dan variabel sebab akibat untuk meramalkan pemintaan.

Tipe dalam Peramalan

Menurut (Heizer dan Render, 2011) terdapat tiga tipe yang digunakan dalam kegiatan peramalan untuk merencanakan proses operasi di masa depan, yaitu:

  1. Peramalan Ekonomi (Economic Forecasts), yaitu peramalan yang digunakan untuk memprediksi tingkat inflasi (inflation rates), persediaan uang (money supplies), housing starts (indikator yang mencatat jumlah proyek pembangunan baru), dan perencanaan indikator lainya.
  2. Peramalan Teknologi (Technological Forecast), yaitu peramalan yang berkaitan dengan tingkat kemajuan teknologi, produk baru, kebutuhan fasilitas dan peralatan baru.
  3. Peramalan Permintaan (Demand Forecast), yaitu peramalan yang digunakan untuk memprediksi permintaan perusahaan baik produk maupun jasa. Berkaitan perencanaan penjualan, perencanaan keuangan, perencanaan pemasaran dan perencanaan karyawan.

Karakteristik Peramalan

Menurut (Sinulingga, 2009) terdapat empat elemen yang disebut sebagai karakteristik peramalan yang baik, yaitu:

1.    Ketelitian

Sasaran pertama dalam peramalan adalah mendapatkan hasil peramalan dengan tingkat akurasi yang tinggi. Terdapat dua ukuran yang digunakan yaitu penyimpangan (bias) dan konsistensi (consistency). Penyimpangan terjadi apabila hasil peramalan memperlihatkan secara terus menerus angka yang tinggi atau rendah. Konsistensi berkaitan dengan ukuran atau besarnya error.

2.    Biaya

Semakin banyak item yang akan diramalkan dan semakin tinggi tingkat ketelitian yang diinginkan makin besar pula biaya yang dibutuhkan. Oleh karena itu perlu dilakukan trade-off antara tingkat akurasi yang dibutuhkan dengan besarnya biaya yang dikeluarkan.

3.    Respon

Sistem peramalan haruslah stabil dalam arti, apabila tingkat permintaan menunjukkan berubah maka hasil peramalan juga harus menunjukan perubahan. Hasil peramalan akan sangat buruk apabila dalam situasi nyata memiliki kenaikan permintaan akan tetapi hasil dari peramalan tidak menunjukan kenaikan permintaan.

4.    Kesederhanaan

Metode peramalan yang lebih sederhana selalu lebih diinginkan dibandingkan dengan metode peramalan yang rumit karena mudah dipahami, dirancang dan digunakan. Namun pilihan yang terbaik ialah harus sesuai dengan sasaran penggunanya.

Metode dalam Peramalan

Menurut (Rusdiana, 2014) adapun yang perlu diperhatikan dari penggunaan metode peramalan ditentukan oleh perbedaan atau penyimpangan antara hasil ramalan dengan kenyataan yang terjadi. Menurut sifatnya, peramalan dibagi menjadi dua metode yaitu kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif didasari pada pengamatan kejadian pada masa lampau dan digabung dengan pemikiran penyusunnya. Sedangkan metode kuantitatif didasari oleh pengamatan nilai-nilai sebelumnya. Secara umumnya metode dalam peramalan dapat dilihat pada Gambar 2.1

Gambar 2.1 Taksonomi Peramalan

Adapun penjelasan dari keseluruhan metode peramalan diatas, yaitu:

1.    Metode Kualitatif

Peramalan kualitatif umumnya memiliki sifat subjektif yang dipengaruhi oleh intuisi, emosi, pendidikan dan pengalaman seseorang. Oleh karena itu, hasil peramalan antara saorang dengan yang lain akan berbeda. Berikut ini merupakan metode yang digolongkan sebagai model peramalan kualitatif (Rusdiana, 2014) terdapat 5 metode kualitatif diantaranya adalah:

a.    Metode Delphi

Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Rand Corporation pada tahun 1950-an. Adapun tahap-tahap yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut:

  1. Menentukan pakar sebagai partisipan. Dalam menentukan pakar, sebaiknya bervariasi dari latar belakang disiplin ilmu yang berbeda.
  2. Melalui kuisioner (atau email), diperoleh dari peramalan seluruh partisipan.
  3. Menyimpulkan hasil, kemudian mendistribusikan kembali pada seluruh partisipan dengan pertanyaan yang baru.
  4. Menyimpulkan kembali hasil revisi peramalan dan kondisinya, kemudian dikembangkan dengan pertanyaan yang baru.

b.    Metode Dugaan Manajemen (Management Estimate)

Metode ini cocok digunakan dalam situasi yang sangat sensitif terhadap intuisi dari sekelompok kecil orang yang mampu memberikan opini kritis dan relevan. Teknik ini akan dipergunakan dalam situasi ketika tidak ada alternatif lain dari model peramalan yang diterapkan.

c.    Metode Riset Pasar (Market Research)

Riset pasar merupakan metode peramalan berdasarkan hasil survei pasar. Metode ini menjaring informasi berkaitan dengan rencana pembelian konsumen pada masa yang akan datang.

d.   Metode Kelompok Terstruktur (Structured Group Methods)

Metode kelompok terstruktur (structured group methods) sama seperti metode Delphi dan metode lainnya. Perbedaannya terletak pada, metode kelompok terstruktur opini dari orang ahli diminta secara terpisah dan tidak boleh secara berunding. Hal ini dilakukan untuk menghindari pendapat yang bias dari pengaruh kelompok.

e.    Metode Analogi Historis (Historical Analogy)

Metode analogi historis merupakan teknik peramalan berdasarkan pola data masa lalu dari produk-produk yang disamakan dengan analogi. Misalnya, peramalan pengembangan pasar televisi yang menggunakan model televisi hitam putih atau televisi berwarna biasa. Dengan demikian apabila terdapat hubungan yang dapat menggantikan produk tersebut dari pasar, metode ini akan sangat baik untuk digunakan.

2.    Metode Kuantitatif

Pada umumnya, metode peramalan kuantitatif adalah peramalan formal yang menggunakan model matematis dan data masa lalu untuk memproyeksikan kebutuhan di masa yang akan datang (Sinulingga, 2009). Menurut (Rusdiana, 2014) metode kuantitatif dibedakan menjadi dua bagian, yaitu:

a. Metode Peramalan Time Series adalah metode dalam peramalan yang menggunakan analisis pola hubungan antara variabel yang diperkirakan dengan variabel waktu. Terdapat empat komponen utama yang mempengaruhi analisis metode time series, yaitu:

1)      Pola Trend

Trend ini merupakan sifat dari permintaan yang cenderung untuk naik atau turun terus-menerus. Pola data trend ini dapat diilustrasikan pada Gambar 2.2

Gambar 2.2 Pola Data Trend

2)      Pola Siklus

Trend ini merupakan sifat permintaan yang berulang secara periodik. Komponen siklis ini sangat berguna dalam peramalan jangka menengah. Pola data siklis ini dapat diilustrasikan pada Gambar 2.3

Gambar 2.3 Pola Data Siklus

3)      Pola Musiman

Trend ini merupakan fluktuasi permintaan suatu produk yang dapat naik maupun turun disekitar garis trend dan biasanya berulang setiap tahun. Pola naik dan turun ini biasanya disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor cuaca, musim libur, hari raya. Pola musiman dapat diilustrasikan pada Gambar 2.4

Gambar 2.4 Pola Data Musiman

4)      Pola Horizontal

Pola data horizontal akan terjadi apabila nilai data berada di sekitar nilai rata-rata. Pola data horizontal dapat diilustrasikan pada Gambar 2.5

Gambar 2.5 Pola Data Horizontal

b. Metode Peramalan Kausal adalah peramalan yang mengasumsikan faktor yang diperkirakan menunjukan adanya hubungan sebab akibat dengan satu atau beberapa variabel bebas (independent). Bagian dari metode peramalan kausal diantaranya adalah :

1)      Metode Regresi dan Korelasi

Menurut (Rusdiana, 2014) menyatakan bahwa Regresi adalah salah satu metode untuk menentukan tingkat pengaruh suatu variabel terhadap variabel yang lain. Variabel yang pertama disebut dengan istilah variabel variabel bebas atau variabel independent (variabel X). Variabel kedua adalah variabel yang terikat atau variabel dependent (variabel Y). Sedangkan korelasi adalah mengukur suatu tingkat kekuatan hubungan kedua variabel tersebut.

Contoh persamaan regresi pada persamaan 1:

Y = variabel terikat (dependent)

X = variabel bebas (independent)

Angka 2 pada persamaan (1) adalah intersep.

2)      Metode Ekonometrik

Metode ekonometrik adalah metode peramalan yang menggunakan gabungan dari teori eknomi, matematika dan statistika. Model ekonometrik terdiri dari dua golongan variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat, akan tetapi jumlah variabel bebas tidak hanya satu, tetapi boleh lebih dari satu variabel.

Langkah – Langkah Peramalan

Pada dasarnya ada beberapa langkah penting dalam peramalan menurut (Mehaninda, 2018) yaitu: 

  1.  Menganalisa data masa lalu untuk mengetahui pola data pada masa lalu. 
  2. Menentukan data yang dipergunakan.
  3. Menentukan metode peramalan. 
  4. Data masa lalu diproyeksikan dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi menggunakan metode yang dipergunakan.

Ukuran Peramalan

Menurut (Karmaker, 2017) akurasi hasil peramalan dapat diukur dengan tingkat kasalahan (error) peramalan. Terdapat 3 ukuran peramalan, yaitu:

1.    Rata-rata Deviasi Mutlak (Mean Absolute Deviation)

MAD (Mean Absolute Deviation) merupakan kesalahan mutlak selama periode tertentu tanpa memperhatikan apakah hasil peramalan lebih besar atau kecil dibandingkan kenyataanya.

2.    Rata-rata Kuadrat Kesalahan (Mean Square Error)

MSE (Mean Square Error) merupakan kesalahan dimana perhitungannya adalah dengan menjumlahkan kuadrat semua kesalahan peramalan pada setiap periode dan membaginya dengan jumlah periode peramalan.

3.    Rata-rata Persentase Kesalahan Absolut (Mean Absolute Percentage Error)

MAPE (Mean Absolute Percentage Error) adalah ukuran yang menggambarkan presentase kesalahan hasil dari peramalan periode tertentu. Presentase ini dapat menyatakan terlalu tinggi atau rendahnya hasil dari peramalan.


Daftar Pustaka

  1. Heizer dan Render (2011) Operation Management. Tenth Edit. Amsterdam: Pearson Education.
  2. Indriastiningsih, E. and Darmawan, S. (2019) ‘Analisa Pengendalian Persediaan Sparepart Motor Honda Beat Fi dengan Metode EOQ Menggunakan Peramalan Penjualan Di Graha Karyaahass XY’, Dinamika Teknik, 12(2), pp. 24–43.
  3. Karmaker, C. L., Halder, P. K. and Sarker, E. (2017) ‘A Study of Time Series Model for Forecasting of Jute Yarn Case Study’, Journal of Industrial Engineering, 2017, pp. 1–8.
  4. Mamat, A. R. et al. (2019) ‘Least square method technique for predicting the acquisition of raw materials and sales of crisp for small and medium enterprises’, International Journal of Recent Technology and Engineering, 7(5), pp. 612–616.
  5. Mehaninda, D. R., Cholissodin, I. and Sutrisno (2018) ‘Peramalan Persediaan Spare Part Sepeda Motor Menggunakan Algoritme Backpropagation’, Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer, 2(12), pp. 6018–6025.
  6. Rusdiana (2014) Manajemen Operasi. Bandung: CV Pustaka Setia.
  7. Saravanan, A. M. et al. (2019) ‘Forecasting techniques for sales of spare parts’, International Journal of Recent Technology and Engineering, 8(3), pp. 27–30.
  8. Sinulingga, S. (2009) Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Yogyakarta: Graha Ilmu.