Pengertian Kinerja Karyawan dan Indikator Penilaian dari Kinerja

Pengertian Kinerja

Kinerja adalah suatu prestasi atau tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang (individu) atau suatu organisasi dalam melaksanakan pekerjaan pada suatu periode tertentu, menurut Robbins dalam (Rochmawan & Tukijan, 2017).  Kinerja karyawan dalam pekerjaan secara berkala dievaluasi di semua sektor, produksi / layanan, publik atau swasta, pada umumnya bersifat subjektif; terutama jenis kualitatif evaluasi kinerja manusia (Waghodekar, 2017).

Kinerja adalah kumpulan konsep yang memperoleh nilai, baik secara kualitatif maupun kuantitatif kegiatan yang direncanakan dimaksudkan untuk tujuan tertentu. Kinerja suatu perusahaan dapat ditentukan sebagai evaluasi dari semua upaya yang dilakukan personel untuk melakukan apa yang diperlukan untuk bekerja realisasi tujuan strategis, taktis dan operasional (Aytekin, 2018).

Kinerja diukur untuk mengetahui sejauh mana tujuan direalisasikan sehingga manajemen bisa bertindak cepat untuk mengambil keputusan. Manfaat pengukuran kinerja dapat dirasakan secara jangka panjang maupun jangka pendek karena lingkaran bisnis berubah secara dinamis kinerja juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur dari berhasil atau tidaknya suatu tujuan organisasi yang telah ditetpkan. Agar dapat diketahui kinerja seorang pegawai/karywan maka yang perlu dilakukan pengukuran yaitu dengan penilaian kinerja karyawan.

Kinerja adalah suatu prestasi atau tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang (individu) atau suatu organisasi dalam melaksanakan pekerjaan pada suatu periode tertentu (Rochmawan & Tukijan, 2017).

Dalam pengukuran kinerja terdapat suatu standard, yaitu disebut sebagai standard kinerja, standard kinerja (performance standard) adalah patokan-patokan yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian kinerja aktual karyawan. Agar penilaian efektif maka standar penilaian hendaknya berhubungan dengan hasil-hasil yang diinginkan oleh setiap pekerjaan,sehingga standar penilaian merupakan alat ukur untuk prestasi (Sugijono, 2015).

Lestari dan Sulandari (2017) mengemukakan kinerja adalah “merupakan perilaku yang nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam organisasi atau perusahaan” (Lestari & Sulandari, 2017).

Indikator Pengukuran Kinerja

Dalam setiap pengukuran/penilaian terdapat tolok ukur atau indikator yang menjadi batasan-batasan, begitupula dalam penilaian kinerja, ada 4 dimensi yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menilai kinerja, yaitu :

  1. Kualitas, yaitu : tingkat kesalahan, kerusakan,kecermatan.
  2. Kuantitas,yaitu jumlah pekerjaan yang dihasilkan
  3. Penggunaan waktu dalam bekerja, yaitu tingkat ketidak hadiran, keterlambatan waktu kerja efektif/jam kerja hilang
  4. Kerja sama dengan orang lain dalam bekerja

Pengertian Life Cycle Assesment (LCA) Teknik Industri

Pengertian Life Cycle Assesment (LCA)

Life Cycle Assessment (LCA) merupakan teknik penilaian yang digunakan untuk mengukur dampak lingkungan suatu produk mulai dari bahan baku hingga akhir hidup (end of life) produk sampai menjadi sampah (cradle-to-grave), daur ulang dan penyelesaian akhir. Analisis menggunakan  Life Cycle Assessment (LCA) akan memperlihatkan bagian bahan baku ataupun proses mana yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Ruang lingkup LCA dapat didefinisikan berdasarkan cradle-to-gate yang menganggap dua tahap pertama dan cradle-to-grave yang merangkup semua tahap LCA. Hal tersebut dapat digambarkan seperti pada Gambar 1.

Gambar 1 Siklus Hidup Produk

Menurut ISO 14040 dalam World Business Council For Sustainable Development (2002) definisi LCA merupakan teknik yang dikembangkan untuk memahami dan menangani dampak dari produk ketika diproduksi maupun saat dikonsumsi. LCA dapat memberikan informasi dampak-dampak lingkungan siklus produk dari material, proses produksi, penggunaan produk, dan waste dari produk yang dihasilkan dari sebuah kegiatan produksi. Selain itu, LCA juga dapat membantu mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan kinerja lingkungan dalam siklus hidup produk tersebut, LCA ini terdiri dari 4 fase utama yang dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Fase Life Cycle Assessment (LCA)

Konsep Life Cycle Assessment (LCA) didasarkan pada pemikiran bahwa suatu sistem industri tidak terlepas kaitannya dengan lingkungan tempat industri itu sendiri. Life Cycle Assessment (LCA) secara umum merupakan pendekatan untuk mengukur dampak lingkungan yang diakibatkan oleh produk atau aktivitas mulai dari pengambilan raw material, diikuti dengan proses produksi dan penggunaan serta berakhir pada pengelolaan sampah/limbah. Penjelasan dari fase Life Cycle Assessment (LCA) antara lain :

1. Goal and Scope 

Tahap ini bertujuan untuk memformulasikan dan mendeskripsikan tujuan, sistem yang akan dievaluasi, batasan-batasan dan asumsi-asumsi yang berhubungan dengan dampak di sepanjang siklus hidup dari sistem. 

2. Life Cycle Inventory (LCI) 

Tujuan dari inventory adalah untuk menunjukkan pengaruh lingkungan per-bagian dari life cycle. Tahap ini merupakan proses kuantifikasi kebutuhan energi dan material, emisi udara, limbah padat dan semua keluaran yang dibuang ke lingkungan selama daur hidup produk. 

3. Life Cycle Impact Assessment (LCIA) 

Pada tahap ini dilakukan pengelompokan dan penilaian mengenai efek yang ditimbulkan terhadap lingkungan berdasarkan data-data yang diperoleh pada tahap LCI. Pada fase LCIA ini terbagi lagi menjadi beberapa tahapan analisa diantaranya : 

a. Klasifikasi dan karakterisasi 

Klasifikasi merupakan langkah untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan substansi yang berasal dari LCI ke dalam kategori II-23 dampak yang heterogen yang telah ditentukan sebelumnya sedangkan karakterisasi merupakan penilaian besarnya substansi yang berkontribusi pada kategori dampak. 

b. Normalisasi 

Prosedur yang diperlukan untuk menunjukkan kontribusi relatif dari semua kategori dampak pada seluruh masalah lingkungan untuk menciptakan satuan yang seragam untuk semua kategori impact dengan mengalikan nilai karakterisasi dengan nilai normal. 

c. Pembobotan 

Pembobotan didapatkan dengan mengalikan kategori impact dengan faktor pembobotan dan ditambahkan untuk mendapatkan nilai total. 

d. Single score 

Digunakan untuk mengklasifikasikan nilai kategori impact berdasarkan aktivitas atau proses. Nilai single score akan terlihat aktivitas mana yang berkontribusi terhadap dampak lingkungan.

4. Interpretasi 

Merupakan integrasi dari life-cycle inventory dan life cycle impact assesment yang digunakan untuk mengkaji, menarik kesimpulan dan rekomendasi yang konsisten dengan tujuan dan lingkup yang telah diformulasikan. 


Penilaian Kinerja dan Macam - Macam Metode Penilaian Kinerja

Pengertian Kinerja

Kinerja adalah suatu prestasi atau tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang (individu) atau suatu organisasi dalam melaksanakan pekerjaan pada suatu periode tertentu, menurut Robbins dalam (Rochmawan & Tukijan, 2017).  Kinerja karyawan dalam pekerjaan secara berkala dievaluasi di semua sektor, produksi / layanan, publik atau swasta, pada umumnya bersifat subjektif; terutama jenis kualitatif evaluasi kinerja manusia (Waghodekar, 2017).

Kinerja adalah kumpulan konsep yang memperoleh nilai, baik secara kualitatif maupun kuantitatif kegiatan yang direncanakan dimaksudkan untuk tujuan tertentu. Kinerja suatu perusahaan dapat ditentukan sebagai evaluasi dari semua upaya yang dilakukan personel untuk melakukan apa yang diperlukan untuk bekerja realisasi tujuan strategis, taktis dan operasional (Aytekin, 2018).

Kinerja diukur untuk mengetahui sejauh mana tujuan direalisasikan sehingga manajemen bisa bertindak cepat untuk mengambil keputusan. Manfaat pengukuran kinerja dapat dirasakan secara jangka panjang maupun jangka pendek karena lingkaran bisnis berubah secara dinamis kinerja juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur dari berhasil atau tidaknya suatu tujuan organisasi yang telah ditetpkan. Agar dapat diketahui kinerja seorang pegawai/karywan maka yang perlu dilakukan pengukuran yaitu dengan penilaian kinerja karyawan.

Kinerja adalah suatu prestasi atau tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang (individu) atau suatu organisasi dalam melaksanakan pekerjaan pada suatu periode tertentu (Rochmawan & Tukijan, 2017).

Dalam pengukuran kinerja terdapat suatu standard, yaitu disebut sebagai standard kinerja, standard kinerja (performance standard) adalah patokan-patokan yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian kinerja aktual karyawan. Agar penilaian efektif maka standar penilaian hendaknya berhubungan dengan hasil-hasil yang diinginkan oleh setiap pekerjaan,sehingga standar penilaian merupakan alat ukur untuk prestasi (Sugijono, 2015).

Lestari dan Sulandari (2017) mengemukakan kinerja adalah “merupakan perilaku yang nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam organisasi atau perusahaan” (Lestari & Sulandari, 2017).

Pengertian Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja merupakan alat yang bermanfaat tidak hanya untuk mengevaluasi kerja karyawan, tetapi juga untuk mengembangkan dan memotivasi karyawan. Selain itu penilaian kinerja dapat digunakan untuk dijadikan evaluasi pada periode berikutnya tentang apa yang perlu diperbaiki dan di lanjutkan.

Menurut Sugijono (2015) penilaian kinerja (performance appraisal) adalah suatu proses yang diselenggarakan oleh perusahaan untuk mengevaluasi atau melakukan penilaian kinerja individu setiap karyawannya. Penilaian kinerja dapat dianggap sebagai alat untuk memverifikasi bahwa karyawan memenuhi standar kinerja yang telah ditetapkan, dan dapat pula untuk membantu karyawan dalam mengelola kinerja mereka. Proses penilaian kinerja harus mampu mengidentifikasi standar-standar kinerja, mampu mengukur kriteria-kriteria yang digunakan untuk melakukan penilaian, dan mampu memberikan umpan balik kepada karyawan mengenai hasil penilaiannya guna meningkatkan kinerja di masa yang datang dan memperbaiki kinerja yang dianggap tidak sesuai dengan standar.

Manfaat penilaian kinerja antara lain adalah manajer dan karyawan mendapatkan umpan balik untuk memperbaiki prestasi kerja, karyawan terjamin dalam memperoleh kesempatan kerja yang adil untuk menempati posisi sesuai dengan kemampuannya, diketahui kemampuan setiap karyawan sehingga berguna dalam program pelatihan dan pengembangan untuk meningkatkan kemampuan mereka, membantu manajer dalam pengambilan keputusan (perbaikan pemberian kompensasi,promosi karyawan yang berprestasi, demosi bagi yang kurang berprestasi, diagnosa kesalahan-kesalahan desain kerja, evaluasi penyimpangan proses rekrutmen dan seleksi karyawan yang telah berlalu dengan indikator prestasi kerja yang sangat rendah.

Persepsi karyawan tentang kewajaran penilaian kinerja telah dipelajari sebagai faktor yang signifikan di Indonesia menggunakan penerimaan dan kepuasan penilaian kinerja. Dalam membahas proses penilaian kinerja di dalam organisasi mana pun, sangat penting bagi keberhasilan Penilaian Kinerja, untuk menentukan bagaimana mereka karyawan yang bertanggung jawab untuk melakukan penilaian (appraisers) serta yang dinilai (menilai) umumnya melihat proses Penilaian Kinerja. Boswell dan Boudreau (1997) berpendapat bahwa Tujuan Penilaian Kinerja memengaruhi proses dan hasil penilaian, dan mereka memahami bahwa sikap karyawan dapat bervariasi tergantung pada persepsi tentang bagaimana Penilaian Kinerja digunakan. Sikap dan persepsi terhadap berbagai aspek sistem dan proses penilaian kinerja (persepsi keadilan) (Sharon et al., 2018).

Penilaian kinerja individu sangat bermanfaat bagi dinamika pertumbuhan organisasi secara keseluruhan, melalui penilaian tersebut maka dapat diketahui kondisi sebenarnya tentang bagaimana kinerja karyawan (Lestari dan Sulandari, 2017).

Dari beragam definisi yang telah diutarakan oleh para ahli sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa, penilaian kinerja karyawan (performance appraisal) adalah serangkaian aktivatas evaluasi yang dilakukan secara sistematis mengenai performa seorang karyawan, dengan cara membandingkan antara kinerja aktual dengan kinerja standar yang sebelumnya telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan dengan disertai pemberian umpan balik (feedback) dalam rangka pengembangan karyawan.

Indikator Kerja

Dalam setiap pengukuran/penilaian terdapat tolok ukur atau indikator yang menjadi batasan-batasan, begitupula dalam penilaian kinerja, menurut Miner dalam Lestari dan Sulandari (2017), mengemukakan 4 dimensi yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menilai kinerja, yaitu :

1. Kualitas, yaitu : tingkat kesalahan, kerusakan,kecermatan.

2. Kuantitas,yaitu jumlah pekerjaan yang dihasilkan

3. Penggunaan waktu dalam bekerja, yaitu tingkat ketidak hadiran, keterlambatan waktu kerja efektif/jam kerja hilang

4. Kerja sama dengan orang lain dalam bekerja

Adapun indikator penilaian kinerja menurut PP No. 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai yaitu :

a. Kuantitas

b. Kualitas

c. Waktu

d. Biaya

e. Orientasi Pelayanan

f. Integritas

g. Komitmen

h. Disiplin, dan

i. Kerjasama

Tujuan Penilaian Kinerja

Menurut Moekiyat dalam Priyono (2008)  mengemukakan ada 5 tujuan penilaian prestasi kerja yaitu :

1. Untuk mengadakan hubungan antara karyawan dan pengawas mereka yang akan menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi.

2. Untuk membantu memperkirakan secara seksama apakah yang dapat dihasilkan oleh masing-masing pegawai dalam suatu keseluruhan.Manajemen Sumber Daya Manusia

3. Mengupayakan agar karyawan mengetahui dengan tepat apa yang diharapkan dari mereka, dan seberapa jauh mereka memenuhi harapan ini.

4. Melakukan upaya tertentu untuk perbaikanperbaikan.

5. Untuk sampai kepada suatu penilaian kecakapan pegawai apabila hal ini dibutuhkan oleh perusahaan.

Metode Penilaian Kinerja

Metode penilaian kinerja karyawan menurut Sugijono (2015):

1.    Metode Daftar Pernyataan Berbobot

Metode daftar pernyataan berbobot (weightedchecklists method) adalah daftar pernyataan deskriptif dan atau sifat-sifat yang mendeskripsikan perilaku yang berhubungan dengan pekerjaan. Setiap butir pernyataan diberi bobot positif ataupun negatif. Bobot nilai tersebut tidak dimunculkan dalam formulir daftar pernyataan sehingga penilai tidak mengetahuinya. Semua poin yang diberikan kepada semua respon yang tertimbang selanjutnya dijumlah untuk mendapatkan nilai keseluruhan.

2.    Metode Daftar Pernyataan

Menurut Herman Sofyandi (2008) dan Dewi Hanggraeni (2012), metode daftar pernyataan (checklists method) adalah daftar pernyataan deskriptif dan atau sifatsifat yang mendeskripsikan perilaku yang berhubungan dengan pekerjaan. Setiap butir pernyataan merefleksikan kualitas positif maupun negatif dari karyawan. Penilai harus memilih checklistdari pernyataanpernyataan yang paling sesuai untuk mendeskripsikan kinerja individu karyawan. Jika penilai memandang karyawan tidak memiliki sifat-sifat pada daftar pernyataan, maka butir pilihan dibiarkan kosong. Keunggulan metode ini adalah hemat, mudah dalam pelaksanaan, keterbatasan pelatihan yang dibutuhkan oleh penilai, dan standarisasi. Kelemahan metode ini meliputi kerentanan terhadap penilaian yang bias (efek halo), penggunaan kriteria pribadi sebagai pengganti kriteria kinerja, dan mis-interprestasi butir-butir dari daftar pernyataan.

3.    Metode Skala Penilaian

Metode Skala Penilaian (rating scales method) membandingkan kinerja individu karyawan dengan suatu standar absolut. Metode ini banyak dipakai secara luas, karena mudah dipahami oleh orang yang dinilai, dan mudah digunakan oleh penilai, serta dapat dilakukan penilaian banyak individu dalam waktu singkat. Selain itu juga mudah dibuat dan dimodifikasi jika dibutuhkan. Penilai mengevaluasi kinerja dari berbagai dimensi, seperti: kualitas kerja, penerimaan kritik, kemauan memikul tanggng jawab, dan lain-lain yang serupa. Skala rentang nilai dimulai dari nilai hingga terbaik, dari tidak memuaskan hingga sangat memuaskan. Skala itu disusun berdasarkan cakupan karakter, keahlian, pengetahuan yang mereka rasa dapat membedakan antara pelaksana yang bagus dengan yang jelek dari setiap pekerjaan. Metode ini menggunakan analisis pekerjaan sebagai dasar untuk menghasilkan ukuran/ dimensi yang dinilai.

4.    Metode Kejadian Kritis

Metode Kejadian Kritis (critical incidentsmethod) dilakukan dengan mencatat kejadian-kejadian kritis dari perilaku yang dianggap tidak biasa atau sangat efektif dan yang buruk atau sangat tidak efektif. Data kejadian kritis diperoleh dari wawancara individu atau kelompok, kuesioner, maupun formulir isian. Misal mencari jawaban atas pertanyaan tindakan yang dilakukan karyawan yang sangat membantu kelompok sehingga pekerjaan dapat terlaksana.

5.    Metode Narasi

Metode Narasi (narrative method) memungkinkan penilai memberikan penilaian yang dapat menunjukkan karakteristik unik tentang kekuatan dan kelemahan, bakat dan keahlian dalam bentuk narasi atau esai. Metode ini memasukkan unsur-unsur: penilaian menyeluruh dari kinerja karyawan, promotabilitas karyawan, pekerjaan yang sekarang dapat dilakukan oleh karyawan, kekuatan dan kelemahan karyawan, dan kebutuhan pelatihan tambahan.

6.    Metode BARS

Metode BARS (Behaviorally Anchored Rating Scale) menggabungkan metode penilaian narasi dan penilaian skala yang masing-masing rate disertai penjelasan narasi secara spesifik mengenai contoh dari perilaku baik dan buruk yang dapat diamati yaitu meliputi karakter, pengetahuan, dan keahlian. Penilai membandingkan kinerja seorang karyawan pada setiap ukuran atau dimensi dari standar, sehingga mampu menghasilkan perilaku yang dapat diamati dari deskripsi pekerjaan dan standar kinerja.

7.    Metode Peninjauan Lapangan

Metode peninjauan lapangan (field visitation method) dilakukan oleh pimpinan dengan terjun langsung ke lapangan untuk menilai prestasi kerja karyawan bersamaan dengan kegiatan supervisi yang telah terencana maupun mendadak.

8.    Metode MBO

Metode MBO (management by objective) dilakukan bersama-sama antara pimpinan sebagai penilai dan karyawan sebagai yang dinilai dalam menentukan tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran pelaksanaan pekerjaan pada waktu yang datang, dan kemudian dengan menggunakan tujuan-tujuan dan sasara-sasaran tersebut secara bersama-sama pula pimpinan dan karyawan melakukan penilaian prestasi kerja. (Islami et al., 2018)

9.    Metode Psikologi

Metode Psikologi (psychology method) dilakukan dengan mengadakan wawancara mendalam, diskusi, dan tes psikologi terhadap karyawan yang dinilai, yaitu meliputi aspek-aspek: intelektual, emosi, motivasi, dan sebagainya. Kemudian hasil penilaian dapat membantu untuk memperkirakan prestasi kerja karyawan pada masa mendatang. Metode ini relevan untuk pengambilan keputusan tentang penempatan atau perpindahan tugas dalam lingkungan organisasi.

Download Aplikasi Article Sparta

Apa Itu Article Sparta ?

Article Sparta merupakan sebuah tools tau software yang berfungsi untuk membuat artikel otomatis dengan berbagai bahasa. Hanya cukup dengan klik mouse, maka artikel unik dan fresh siap Anda pos pada website. Tidak perlu khawatir, article sparta akan membantu Anda untuk membuat artikel unik hingga ribuan artikel.

Bagi yang mau mencoba tools article sparta ini admin akan memberikan yang bisa kalian download free alias gratis tanpa harus membeli, silahkan klik link disini.

Pengertian Tata Letak Fasilitas, Tujuan, Ruang Lingkup dan Prinsip

Pengertian Tata Letak Fasilitas

Menurut (Apple, 1990) menyatakan bahwa perancangan fasilitas adalah kegiatan yang berhubungan dengan perancangan unsur fisik seperti untuk pergudangan, toko, restoran, rumah sakit, rumah bahkan pabrik. Penataan tata letak yang baik akan menunjang kelancaran proses produksi guna memenuhi permintaan konsumen baik industri manufaktur maupun jasa. Perancangan tata letak fasilitas adalah tata cara pengaturan fasilitas yang ada pada perusahaan sebagai penunjang kelancaran proses produksi secara efektif dan efisien. Tata letak juga memiliki dampak strategis karena tata letak yang menentukan daya saing perusahaan dalam hal kapasitas, proses, fleksibilitas, biaya, kualitas lingkungan kerja, kontak dengan pelanggan dan citra perusahaan (Maheswari dan Dany, 2015).

Menurut (Firmansyah dan Lukmandono, 2020) Tata Letak Fasilitas dapat didefiniskan sebagai aktivitas untuk merencanakan atau mengatur fasilitas industri secara optimal seperti, peralatan transportasi, departemen produksi, gudang bahan baku, gudang bahan jadi dan beberapa fasilitas pendukung lainnya. Manfaat tata letak diantaranya adalah dapat meningkatkan pendapatan dengan menentukan penyimpanan berdasarkan alokasi FSN (Fast Moving, Slow Moving dan Non Moving)

Tujuan Tata Letak Fasilitas

Perancangan tata letak fasilitas memiliki tujuan menurut (Apple, 1990) tujuan utama tata letak fasilitas adalah :

  1. Memudahkan proses manufaktur.
  2. Meminimumkan pemindahan barang.
  3. Memelihara keluwesan susunan dan operasi.
  4. Memelihara perputaran barang setengah jadi yang tinggi.
  5. Menekan modal tertanam pada peralatan.
  6. Menghemat pemakaian ruang bangunan.
  7. Meningkatkan kesangkilan tenaga kerja.
  8. Memberi kemudahan, keselamatan bagi pegawai dan memberi kenyamanan dalam melaksanakan pekerjaan.

Ruang Lingkup Tata Letak Fasilitas

Menurut (Apple, 1990) perancangan fasilitas bukan hanya berhubungan dengan perancangan tentang susunan peralatan produksi. Akan tetapi rangkaian kegiatan yang sangat luas dan saling berhubungan. Menurut (Apple, 1990) ruang lingkup rancang fasilitas mencakup kajian yang cermat pada bidang-bidang berikut:

  1. Pengangkutan
  2. Penerimaan
  3. Gudang bahan baku
  4. Produksi
  5. Perakitan
  6. Pengemasan dan pengepakan
  7. Pemindahan barang
  8. Pelayanan pegawai
  9. Kegiatan produksi penunjang
  10. Pergudangan
  11. Pengiriman
  12. Perkantoran
  13. Fasilitas penunjang
  14. Bangunan
  15. Lahan
  16. Lokasi
  17. Keamanan
  18. Buangan

Prinsip Tata Letak Fasilitas

Menurut (Nursyanti dan Rahayu, 2019) prinsip dalam perancangan tata letak terdiri dari:

  1. Barang dengan frekuensi pengeluaran yang sering (fast moving) dapat diletakkan pada lokasi yang mudah dicapai atau sebaliknya barang yang lambat lambat (slow moving) pendistribusiannya ditempatkan ke lokasi yang kedalam gedung.
  2. Penempatan barang dapat dilakukan dengan memberikan identitas, yaitu nomor bagian, lokasi, jenis, dll.
  3. Akses ke gudang dibatasi kepada karyawan dengan memahami peraturan pergudangan.
  4. Transaksi dokumen harus dilakukan secara teliti dengan memakai sistem manual atau data base.
  5. Mempersiapkan jalur/lorong penggerakan barang, maupun peralatan yang digunakan dalam penyimpanan dan pengambilan barang. Jarak pemindah antar barang diupayakan seminimal mungkin.
  6. Membuat informasi yang membantu karyawan dapat melakukan instruksi dalam bentuk gambar seperti dilarang merokok, rak, penunujuk arah atau tanda larangan lainnya.
  7. Semua area dimanfaatkan secara efektif dan efisien.
  8. Kepuasan kerja dan rasa aman pekerja dijaga sebaik-baiknya.
  9. Pengaturan tata letak harus fleksibel.

Adapun prinsip tata letak fasilitas menurut (Varinder Khurana, 2015) diantaranya adalah :

  1. Memudahkan dalam hal pencarian.
  2. Dapat meminimumkan jarak dalam pencarian.
  3. Tata letak harus aman.
  4. Tata letak harus fleksibel.

Daftar Pustaka

Apple, J. (1990) Tataletak pabrik dan pemindahan barang. Bandung: ITB Bandung.

Firmansyah, A. and Lukmandono, L. (2020) ‘Warehouse Relayout Design with Weighted Distance Method to Minimize Time Travel’, Petra International Journal of Business Studies, 3(1), pp. 1–8.

Maheswari, H. and Dany Firdauzy, A. (2015) ‘Evaluasi Tata Letak Fasilitas Produksi Untuk Meningkatkan Efisiensi Kerja Pada PT. Nusa Multilaksana’, Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis, 1(3), pp. 1–25.

Nursyanti, Y. and Rahayu, D. (2019) ‘Seminar Nasional Teknologi Komputer & Sains (SAINTEKS) Rancangan Penempatan Material Packaging Dengan Metode Dedicated Storage’, (3), pp. 774–782.

Varinder Khurana, R. M. (2015) ‘Facility Layout Planning: A Review’, International Journal of Innovative Research in Science, Engineering and Technology, 04(03), pp. 976–980. doi: 10.15680/ijirset.2015.0403027.

Pengertian dan Proses Perencanaan Produk, Tujuan dan Fungsi Perencanaan Produksi

Pengertian Perencanaan Produk

Perencanaan produk adalah proses menciptakan ide produk dan menindaklanjuti sampai produk diperkenalkan ke pasar. Selain itu, perusahaan harus memiliki strategi cadangan apabila produk gagal dalam pemasarannya. Termasuk diantaranya ekstensi produk atau perbaikan, distribusi, perubahan harga dan promosi.

Kesuksesan ekonomi suatu perusahaan manufaktur tergantung kepada kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelanggan, kemudian secara cepat menciptakan produk yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan biaya yang rendah. Hal ini bukan merupakan tanggung jawab bagian pemasaran, bagian manufaktur, atau bagian desain saja, melainkan merupakan tanggung jawab yang melibatkan banyak fungsi yang ada di perusahaan. Metode pengembangan produk berdasarkan kepada permintaan atau persyaratan serta spesifikasi produk oleh customer adalah metode yang cukup baik, karena dengan berbasis keinginan customer maka kemungkinan produk tersebut tidak diterima oleh customer menjadi lebih kecil. Dari sudut pandang investor pada perusahaan yang berorientasi laba, usaha pengembangan produk dikatakan sukses jika produk dapat diproduksi dan dijual dengan menghasilkan laba. Namun laba seringkali sulit untuk dinilai secara cepat dan langsung.

Terdapat  5 dimensi spesifik yang berhubungan dengan laba dan biasa digunakan untuk menilai kinerja usaha pengembangan produk, yaitu:

1.  Kualitas Produk

Seberapa baik produk yang dihasilkan dari upaya pengembangan dan dapat memuaskan kebutuhan pelanggan. Kualitas produk pada akhirnya akan mempengaruhi pangsa pasar  dan menentukan harga yang ingin dibayar oleh pelanggan.

2.  Biaya Produk

Biaya untuk modal peralatan dan alat bantu serta biaya produksi setiap unit disebut biaya manufaktur dari produk. Biaya produk menentukan berapa besar laba yang dihasilkan oleh perusahaan pada volume penjualan dan harga penjualan tertentu.

3.  Waktu Pengembangan Produk

Waktu pengembangan akan menentukan kemampuan perusahaan dalam berkompetisi, menunjukkan daya tanggap perusahaan terhadap perubahan teknologi dan pada akhirnya akan menentukan kecepatan perusahaan untuk menerima pengembalian ekonomis dari usaha yang dilakukan tim pengembangan.

4.  Biaya Pengembangan

Biaya pengembangan biasanya merupakan salah satu komponen yang penting dari investasi yang dibutuhkan untuk mencapai profit.

5.  Kapabilitas Pengembangan.

Kapabilitas pengembangan merupakan asset yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengembangkan produk dengan lebih efektif dan ekonomis dimasa yang akan datang.

Perancangan dan pembuatan suatu produk baik yang baru atau yang sudah ada merupakan bagian yang sangat besar dari semua kegiatan teknik yang telah ada. Kegiatan ini didapat dari persepsi tentang kebutuhan manusia, kemudian disusul oleh penciptaan suatu konsep produk, perancangan produk, pengembangan dan penyempurnaan produk, dan diakhiri dengan pembuatan dan pendistribusian produk tersebut.

Tujuan Dan Fungsi Rencana Produksi

1. Tujuan rencana produksi

Tujuan rencana produksi diantaranya adalah :

  • Meminimalkan biaya / memaksimalkan laba
  • Memaksimalkan layanan nasabah
  • Meminimalkan investasi inventaris
  • Meminimalkan perubahan dalam nilai produksi
  • Meminimalkan perubahan dalam tingkat tenaga kerja
  • Memaksimalkan pemanfaatan pabrik dan perlengkapan

2. Fungsi rencana produksi

Fungsi dari perencanaan dan pengendalian produksi adalah:

  • Menjamin rencana penjualan dan rencana produksi konsisten terhadap rencana strategis      perusahaan
  • Sebagai alat ukur performansi proses perencanaan produksi
  • Menjamin kemampuan produksi konsisten terhadap rencana produksi
  • Memonitor hasil produksi aktual terhadap rencana produksi dan membuat penyesuaian.
  • Mengatur persediaan produk jadi untuk mencapai target produksi dan rencana startegis
  • Mengarahkan penyusunan dan pelaksanaan Jadwal induik Produksi.

Tujuan dan Fungsi Perencanaan  

  1. Meramalkan permintaan produk yang dinyatakan dalam jumlah produk sebagai fungsi dari waktu. 
  2. Memonitor permintaan yang aktual, membandingkannya dengan ramalan permintaan sebelumnya dan melakukan revisi atas ramalan tersebut jika terjadi penyimpangan. 
  3. Menetapkan ukuran pemesanan barang yang ekonomis atas bahan baku yang akan dibeli. 
  4. Menetapkan sistem persediaan yang ekonomis, 
  5. Menetapkan kebutuhan produksi dan tingkat persediaan pada saat tertentu. 
  6. Memonitor tingkat persediaan, membandingkannya dengan rencana persediaan, dan melakukan revisi rencana produksi pada saat yang ditentukan. 
  7. Membuat jadwal produksi, penugasan, serta pembebanan mesin dan tenaga kerja yang terperinci

Proses Perencanaan Produk

Rencana produk mengidentifikasi portofolio produk-produk yang dikembangkan dan waktu pengenalan ke pasar. Proses perencanaan mempertimbangkan peluang-peluang pengembangan produk, yang diidentifikasi oleh banyak sumber, mencakup usulan bagian pemasaran, penelitian, pelanggan, tim pengembangan produk dan analisis keunggulan para pesaing. Rencana produk perlu diperbarui secara berkala agar dapat mengakomodasi perubahan dan perkembangan yang ada. Untuk mengembangkan suatu rencana produk dan pernyataan misi proyek perlu 5 (lima) tahapan proses:

1. Mengidentifikasi peluang

Peluang-peluang melibatkan beberapa dari 4 (empat) tipe proyek pengembangan produk, yaitu:

a. Produk baru

b. Turunan dari produk yang sudah ada.

c. Perbaikan produk yang sudah ada.

d. Produk yang pada dasarnya baru.

Identifikasi peluang dapat dilakukan dengan cara:

a. Keluhan pelanggan terhadap produk sejenis yang sudah ada.

b. Analisa keunggulan dan kelemahan produk pesaing.

c. Usulan pelanggan yang dikumpulkan secara otomatis.

d. Pertimbangan implikasi terhaadap adanya kecenderungan dalam gaya idup, demografi dan teknologi untuk kategori yang produk ada dan peluang-peluang kategori produk baru.

2. Mengevaluasi dan Memprioritaskan Proyek

Empat perspektif dasar yang berguna dalam mengevaluasi dan memprioritaskan peluang-peluang bagi produk baru dalam kategori produk yang sudah ada adalah:

a. Strategi bersaing

Strategi bersaing perusahaan merupakan sebuah pendekatan pasar dan produk yang mendasar dengan memperhatikan para pesaing. Strategi ini digunakan untuk memilih peluang. Pada umumnya perusahaan melakukan diskusi pada tingkat manajemen merupakan sebuah kompetensi strategi dan membantu dalam bersaing. Beberapa strategi yang mungkin untuk diterapkan:

  • Kepemimpinan yang berbasis pada teknologi.
  • Kepemimpinan berbasis efisiensi biaya.
  • Fokus pelanggan.
  • Produk tiruan.

b. Segmentasi pasar

Pembagian pasar ke dalam segmen-segmen memungkinkan perusahaan untuk mempertimbangkan tindakan-tindakan pesaing dan kekuatan produk perusahaan sekarang berdasarkan kelompok pelanggan yang jelas. Pemetaan produk-produk pesaing dan milik sendiri dalam segmen-segmen akan membantu perusahaan dalam memperkirakan peluang produk yang menyebabkan kelemahan lini produknya dan dan yang memanfaatkan kelemahan dari penawaran pesaing.

c. Perkembangan teknologi

Dalam bisnis yang sifatnya intensif teknologi, keputusan perencanaanyang utama adalah penentuan waktu untuk menggunakan teknologi dasar yang baru dalam lini produk.

d. Perencanaan platform produk

Platform produk merupakan sekumpulan aset yang dibagi dalam sekumpulan produk. Platform yang efektif dapat memungkinkan variasi turunan produk untuk dirancang lebih cepat dan mudah, yang setiap produk memberikan ciri-ciri dan fungsi-fungsi yang diinginkan oleh pasar utama.

Keputusan mengenai platform produk sangat berkaitan dengan usaha pengembangan produk dari perusahaan dan untuk memutuskan mengenai teknologi mana yang akan digunakan untuk produk baru.

Satu teknik untuk mengkoordinasikan pengembangan teknologi dengan perencanaan produk adalah peta jalur teknologi. Peta jalur teknologi merupakan cara untuk menunjukkan ketersediaan yang diharapkan dan masa depan penggunaan berbagai teknologi yang relevan untuk produk yang dipertimbangkan.

e. Evaluasi peluang produk baru secara fundamental

Beberapa kriteria untuk mengevaluasi peluang produk baru secara fundamental adalah:

  • Ukuran pasar (unit/tahun x harga rata-rata).
  • Tingkat pertumbuhan pasar (persen per tahun).
  • Intensitas persaingan (jumlah pesaing dan kekuatannya).
  • Pengetahuan perusahaan mengenai pasar.
  • Pengetahuan perusahaan mengenai teknologi.
  • Kesesuaian dengan produk perusahaan lain.
  • Kesesuaian dengan kemampuan perusahaan.
  • Menyeimbangkan portofolio proyek pengembangan , Metode penyeimbang portofolio akan melibatkan pemetaan portofolio sesuai dengan dimensi-dimensi yang berguna, sehingga manajer akan mempertimbangkan implikasi dari keputusan perencanaan. Pendekatan pemetaan yang dikemukakan Cooper et al (1998) melibatkan dimensi seperti resiko teknis, pengembalian finansial, daya tarik pasar dan sebagainya.

3. Pengalokasian Sumber Daya dan Perencanaan Waktu

a. Pengelolaan sumber daya

Perencanaan agregat akan membantu perusahaan dalam penggunaan sumber daya secara efisien dengan mengambil proyek-proyek yang beralasan untuk diselesaikan berdasarkan sumber daya yang dianggarkan.

b. Penentuan waktu proyek

Penentuan waktu dan urutan proyek harus mempertimbangkan faktor-faktor:

  • Penentuan waktu pengenalan produk.
  • Kesiapan teknologi.
  • Kesiapan pasar.
  • Persaingan dalam penawaran produk.

4. Penyelesaian Perancangan Proyek Pendahuluan

Tahap ini dilakukan setelah proyek disetujui, tetapi sebelum sumber daya penting digunakan. Kegiatan ini melibatkan tim fungsional silang yang disebut tim inti. Pada poin ini pernyataan kesempatan yang lebih sesegera mungkin ditulis kembali sebagai suatu pernyataan visi produk.

Sasaran yang terdefinisi dalam pernyataan visi produk kadang sangatlah umum. Untuk memberikan petunjuk yang jelas bagi organisasi pengembangan produk, biasanya tim memformulasikan suatu definisi yang lebih detail dari pasar target dan asumsi-asumsi yang mendasari operasional tim pengembangan. Keputusan-keputusan mengenai hal ini akan terdapat dalam suatu pernyataan misi.

a. Pernyataan misi

Pernyataan misi mencakup:

  • Uraian produk ringkas, mencakup manfaat produk utama untuk pelanggan namun menghindari penggunaan konsep produk secara spesifik.
  • Sasaran utama bisnis, mencakup waktu, biaya dan kualitas.
  • Pasar target untuk produk, mengidentifikasi pasar utama dan pasar kedua yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan.
  • Asumsi dan batasan, untuk mengarahkan usaha pengembangan.
  • Stakeholder, untuk menjamin bahwa banyak permasalahan pengembangan ditujukan untuk mendaftar secara eksplisit seluruh stakeholder dari produk. Daftar stakeholder dimulai dari pengguna akhir dan pelanggan eksternal yang membuat keputusan-keputusan tentang produk. Daftar stakeholder menyediakan suatu bayangan bagi tim untuk mempertimbangakn kebutuhan setiap konsumen.

b. Asumsi dan batasan

Asumsi dan batasan diperlukan agar pengembangan teknis dari produk lebih terarah. Permasalahan yang perlu dipertimbangkan dalam menyatakan asumsi dan batasan:

  • Manufaktur, mempertimbangkan kemampuan, kapasitas, dan batasan operasional manufaktur.
  • Pelayanan, Pelayanan pelanggan dan pendapatan pelayanan sangat menentukan keberhasilan perusahaan, sehingga perusahaan perlu menyatakan sasaran strategis untuk tingkat-tingkat kualitas pelayanan.
  • Lingkungan, Sasarannya adalah bahwa seluruh komponen akan dimanufaktur kembali atau didaur ulang atau keduanya Sehingga seharusnya tidak ada komponen yang dibuang pelanggan.

c. Penentuan staf dan kegiatan perencanaan proyek pendahuluan lain.

  • Merefleksikan hasil dengan proses

Langkah terakhir dari perencanaan dan proses strategi, tim seharusnya menanyakan beberapa pertanyaan untuk memperlirakan kualitas hasil dan proses.

Karena pernyataan misi merupakan pegangan untuk tim pengembangan, suatu reality check harus dilakukan sebelum melalui proses pengembangan. Langkah awal ini merupakan waktu untuk perbaikan.

Mengenal KPI (Key Performance Indicator), Karakteristik dan Jenis-Jenis KPI

Key Performance Indicator (KPI) atau indikator kinerja utama adalah sebuah perangkat atau alat pengukuran berupa metrik finansial atau non-finansial yang berfungsi sebagai navigasi bagi perusahaan untuk mengukur dan menentukan kemajuan sasaran atau strategi yang telah ditetapkan. KPI merupakan cerminan dari target perusahaan dan progress pencapaian tujuan. KPI digunakan sebagai intelijen bisnis untuk menilai keadaan terkini suatu bisnis dan menentukan suatu tindakan terhadap keadaan tersebut.

Key Performance Indicator banyak digunakan untuk membantu perusahaan mengetahui tingkat perkembangan dan merumuskan langkah-langkah pelaksanaan kegiatan di masa depan. Sebagai ukuran penting yang terukur, maka KPI bisa dipakai dalam membuat arah tujuan perusahaan dan bisa digunakan untuk patokan duga menemukan target dalam kerangka waktu.

Pengertian Key Performance Indikator Menurut Ahli:

Menurut Bernard (2016), key performance indicator adalah alat navigasi penting yang digunakan oleh para manajer untuk memahami apakah perusahaan mereka sedang mengarah pada kesuksesan atau sedang menjauhi jalur menuju kesuksesan.

Menurut Parmenter (2007), key performance indicator adalah metrik finansial ataupun nonfinansial yang digunakan untuk membantu suatu organisasi menentukan dan mengukur kemajuan terhadap sasaran organisasi.

Menurut Warren (2011), key performance indicator adalah sebuah pengukuran yang menilai bagaimana sebuah organisasi mengeksekusi visi strategisnya. Visi strategis yang dimaksud merujuk kepada bagaimana strategi organisasi secara interaktif terintegrasi dalam strategi organisasi secara menyeluruh.

Menurut Banerjee dan Buoti (2012), key performance indicator adalah ukuran berskala dan kuantitatif yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja organisasi dalam tujuan mencapai target organisasi.

Menurut Iveta (2012), key performance indicator adalah ukuran yang bersifat kuantitatif dan bertahap bagi perusahaan serta memiliki berbagai perspektif dan berbasiskan data konkret, dan menjadi titik awal penentuan tujuan dan penyusunan strategi organisasi.

Syarat dan Karakteristik KPI

Persyaratan dan Karakteristik Key Performance Indikator Menurut Moeheriono (2012), dalam menyusun key performance indicator terdapat beberapa persyaratan indikator kinerja yang harus dipenuhi, yaitu sebagai berikut:

1. Specific, yaitu target pencapaian key performance indicator harus dirumuskan dengan jelas dan spesifik, sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh seluruh anggota organisasi.

2. Measurable, yaitu setiap key performance indicator (baik ukuran kuantitatif maupun kualitatif) telah ditentukan informasi tentang jenis data-data yang akan digali, sumber data, dan cara mendapatkan data tersebut.

3. Attibutable, yaitu setiap key performance indicator yang dibuat harus bermanfaat dalam pengambilan keputusan.

4. Relevant, yaitu indikator kinerja tersebut harus sesuai dengan ruang lingkup program dan dapat menggambarkan hubungan sebab dan akibat diantara indikator lainnya.

5. Timely, yaitu indikator kinerja yang sudah ditetapkan harus dikumpulkan datanya dan dilaporkan tepat pada waktunya.

Jenis-jenis Key Performance Indicator

Pada dasarnya, Indikator Kinerja Utama atau KPI dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu KPI Financial dan KPI Non-Financial.

Key Performance Indicator Financial

KPI Financial adalah indikator kinerja utama yang berkaitan dengan keuangan. Contoh KPI Finansial ini diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. KPI Laba Kotor (Gross Profit), yaitu KPI yang mengukur jumlah uang yang tersisa dari pendapatan setelah dikurangi Harga Pokok Penjualan (HPP).
  2. KPI Laba Bersih (Net Profit), yaitu KPI yang mengukur jumlah uang yang tersisa dari pendapatan setelah dikurangi Harga Pokok Penjualan dan biaya-biaya bisnis lainnya seperti biaya bunga dan pajak.
  3. KPI Marjin Laba Kotor (Gross Profit Margin), yaitu KPI yang mengukur nilai persentase yang diperoleh dengan membagi Laba Kotor dengan Pendapatan.
  4. KPI Marjin Laba Bersih (Net Profit Margin), yaitu KPI yang mengukur nilai persentase yang diperoleh dengan membagi laba bersih berdasarkan pendapatannya.
  5. KPI Rasio Lancar (Current Ratio), yaitu KPI yang mengukur kinerja keuangan neraca likuiditas dengan membagikan aktiva lancar (current assets) dengan Kewajiban lancar (current liabilities).

Indikator ini memperkirakan seberapa baik suatu bisnis akan bertahan apabila mengalami penurunan secara tiba-tiba.

Key Performance Indicator Non-Financial

KPI Non-Financial adalah KPI yang tidak secara langsung mempengaruhi keuangan suatu perusahaan. Beberapa contoh KPI Non-Finansial yang dimaksud tersebut diantaranya seperti :

  1. Perputaran Tenaga Kerja (Manpower Turnover)
  2. Matriks Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction metrics)
  3. Rasio Pelanggan Berulang terhadap Pelanggan Baru (Repeat Customer to New Customer Ratio)
  4. Pangsa Pasar (Market Share)
Daftar Pustaka

Bernard, Marr. 2016. 25 Key Performance Indicators yang Harus Diketahui. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Parmenter, David. 2007. Key Performance Indicators. New Jersey: John Wiley & Sons.

Moeheriono. 2012. Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi. Bogor: Ghalia Indoneisa.

Warren, J. 2011. Key Performance Indicators (KPI) - Definition and Action: Integrating KPIs into your Company’s Strategy. London: ATI.

Banerjee, J. & Buoti, C. 2012. General specifications of KPIs. International Telecomunication Union.

Iveta, G. 2012. Human Resources Key Performance Indicators. Journal of Competitiveness.

Pengertian Persediaan, Jenis-Jenis Persediaan, Tujuan Persediaan, Cara Menghitung Persediaan

Pengertiaan Persediaan

Persediaan atau inventory adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu. Setiap perusahaan yang melakukan kegiatan usaha umumnya memiliki persediaan.

Pengertian Persediaan Menurut Buku

Menurut Schroeder (1995:4) persediaan atau inventory adalah stok bahan yang digunakan untuk memudahkan produksi atau untuk memuaskan permintaan pelanggan. Beberapa penulis mendefinisikan sediaan sebagai suatu sumber daya yang menganggur dari berbagai jenis yang memiliki nilai ekonomis yang potensial. Definisi ini memungkinkan seseorang untuk menganggap peralatan atau pekerja-pekerja yang menganggur sebagai sediaan, tetapi kita menganggap semua sumber daya yang menganggur selain daripada bahan sebagai kapasitas.

Menurut Rangkuti (2004:1) persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha tertentu, atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi, ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi.

Johns dan Harding (1996:71), persediaan adalah suatu keputusan investasi yang penting sehingga perlu kehati-hatian.

Kusuma (2009:132) persediaan didefinisikan sebagai barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada periode mendatang.

Jenis-Jenis Persediaan

Menurut Render dan Heizer (2005), berdasarkan proses manufakturnya persediaan dibagi menjadi empat jenis, yaitu:

1. Persediaan bahan baku (raw material inventory). 

Adalah persediaan yang dibeli tetapi tidak diproses. Persediaan ini dapat digunakan untuk mendecouple (memisahkan) para pemasok dari proses produksi.

2. Persediaan barang setengah jadi (working in process inventory). 

Adalah bahan baku atau komponen yang sudah mengalami beberapa perubahan tetapi belum selesai. Adanya work in process disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah produk (disebut siklus waktu). Mengurangi siklus waktu berarti mengurangi persediaan.

3. Persediaan pemeliharaan, perbaikan dan operasi (maintenance, repair, operating, MRO).

Pemeliharaan, perbaikan, operasi digunakan untuk menjaga agar permesinan dan proses produksi tetap produktif. MRO tetap ada karena kebutuhan dan waktu pemeliharaan dan perbaikan beberapa peralatan tidak diketahui.

4. Persediaan barang jadi (finished goods inventory). 

Adalah produk yang sudah selesai dan menunggu pengiriman. Barang jadi bisa saja disimpan karena permintaan pelanggan dimasa depan tidak diketahui.

Tujuan dan Alasan Timbulnya Persediaan.

Menurut Schroeder (1995:6), empat alasan untuk mengadakan persediaan :

a. Untuk berlindung dari ketidakpastian.

Dalam sistem sediaan, terdapat ketidakpastian dalam pemasokan, permintaan dan tenggang waktu pesanan. Stok pengaman dipertahankan dalam sediaan untuk berlindung dari ketidakpastian tersebut.

b. Untuk memungkinkan produksi dan pembelian ekonomis. 

Sering lebih ekonomis untuk memproduksi bahan dalam jumlah besar. Dalam kasus ini, sejumlah besar barang dapat diproduksi dalam periode waktu yang pendek, dan kemudian tidak ada produksi selanjutnya yang dilakukan sampai jumlah tersebut hampir habis.

c. Untuk mengatasi perubahan yang diantisipasi dalam permintaan dan penawaran.

Ada beberapa tipe situasi dimana perubahan dalam permintaan atau penawaran dapat diantisipasi. Salah satu kasus adalah dimana harga atau ketersediaan bahan baku diperkirakan untuk berubah. Sumber lain antisipasi adalah promosi pasar yang direncanakan dimana sejumlah besar barang jadi dapat disediakan sebelum dijual. Akhirnya perusahaan-perusahaan dalam usaha musiman sering mengantisipasi permintaan untuk memperlancar pekerjaan.

d. Menyediakan untuk transit.

Sediaan dalam perjalanan (transit inventories) terdiri dari bahan yang berada dalam perjalanan dari satu titik ke titik yang lainnya. Sediaan-sediaan ini dipengaruhi oleh keputusan lokasi pabrik dan pilihan alat angkut. Secara teknis, sediaan yang bergerak antara tahap-tahap produksi, walaupun didalam satu pabrik, juga dapat digolongkan sebagai sediaan dalam perjalanan. Kadang-kadang, sediaan dalam perjalanan disebut sediaan pipa saluran karena ini berada dalam pipa saluran distribusi.

Menentukan Besarnya Persediaan

Adapun cara menentukan besarnya persediaan yang perlu diketahui sebagai dasar dalam menentukan jumlah persediaan yang harus diadakan oleh perusahaan supaya proses produksi berjalan lancar dengan biaya persediaan seminimal mungkin adalah sebagai berikut :

a. Safety Stock

Adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan (stock out). Kegunaan safety stock untuk menghindari terjadinya kemacetan proses produksi yang disebabkan kekurangan persediaan barang (stock out). Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya safety stock adalah sebagai berikut :

  1. Sulit tidaknya bahan tersebut diperoleh. 
  2. Kebiasaan leveransir menyerahkan barang. 
  3. Besarnya pesanan setiap kali pesan. 
  4. Kemungkinan adanya pesanan mendadak.

b. Re Order Point (ROP)

Pengertian Re Order Point yang dikemukakan oleh Assauri (1999 : 180) adalah saat atau titik dimana harus diadakan pesanan lagi sedemikian rupa sehingga kedatangan atau penerimaan material yang dipesan itu adalah tepat waktu dimana persediaan di atas safety stock sama dengan nol. Untuk menentukan titik pemesanan kembali menggunakan rumus lead time x pemakaian rata-rata + safety stock, atau dengan rumus :

ROP = (d x L) + SS

Sumber : Assauri (1999: 180).

c. Economic Order Quantity (EOQ)

Dalam menghitung pembelian bahan baku yang optimal dipergunakan perhitungan EOQ (Economic Order Quantity). Menurut Assauri (1999 : 182). EOQ adalah jumlah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang minimal atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal. Dalam menentukan besarnya jumlah pembelian yang optimal ini kita hanya memperhatikan biaya variabel dari persediaan tersebut. Untuk menentukan jumlah pemesanan yang ekonomis dapat digunakan EOQ kebutuhan tetap :

Sumber : Assauri (1999 : 182).

Keterangan :

D = Kebutuhan bahan per tahun

S = Biaya pemesanan tiap kali pesan

P = Harga bahan baku

I = % Biaya penyimpanan Pembelian bahan baku diasumsikan memenuhi syarat berlakunya EOQ seperti berikut :

  1. Permintaan atau produksi adalah konstans, seragam dan diketahui (deterministik).
  2. Harga per unit produk adalah konstans.
  3. Biaya penyimpanan per unit per tahun adalah konstan.
  4. Biaya pemesanan per pesanan adalah konstan.
  5. Waktu antara pesanan dilakukan dan barang diterima (lead time) adalah konstan.
  6. Tidak terjadi kekurangan bahan atau back order.

Daftar Pustaka :

Assauri, Sofyan 1999. Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi Revisi, Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Hendra Kusuma. 2009. Manajemen Produksi:Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Edisi 4. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Johns, D. T., dan H. A. Harding.1996. Manajemen Operasi. Jakarta : PT Pustaka Binaman Pressindo.

Rangkuti,F. 2004. Manajemen Persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Render,B., dan J. Heizer. 2005. Manajemen Operasi. Jakarta : Salemba Empat.

Schroeder Roger.1995. Pengembilan Keputusan Dalam Suatu Fungsi Operasi. Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga.